FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Status Sosial Miskin, Lebih Melelahkan?

apa yang menyebabkan kalangan bawah dalam pengadilan rohani di buku kiamat 2012 paling banyak menghabiskan materi? apasih ya yang ada dalam benak orang-orang miskin.. dimana titik telak kesalahan mereka


 

Salam. Begini kurang lebih penjelasan singkatnya: karena kalangan tersebut mayoritas memiliki pemahaman bahwa kemuliaan di hadapan manusia = kemuliaan di hadapan Allah. Dan yang seperti kita ketahui, "kalangan bawah", baik secara ekonomi maupun sosial, memiliki relatif sedikit kemuliaan di hadapan manusia. Hal ini berkebalikan dengan rata-rata mereka yang sudah mendapatkan kemuliaan di hadapan sesama manusia, yang sudah sadar bahwa bukan hal itu yang menjadikan mereka mulia di hadapan Allah. Ada sesuatu yang lebih lagi.

Apa akibatnya jika manusia menyamakan kemuliaan di hadapan manusia sebagai indikator kemuliaan di hadapan Allah?

Akibatnya mereka melakukan segala sesuatu dengan kemuliaan di hadapan manusia sebagai kompas utamanya, tujuan utamanya. Mereka menganggap tanpa kemuliaan di hadapan sesama manusia, seorang manusia itu nggak mungkin diterima ibadahnya di hadapan Allah. Segala macam hal yang mereka lakukan mereka nilai berdasarkan standar kemuliaan di hadapan sesama manusia di masyarakat mereka. Misalnya, kalau di kalangan Muslim, Umrah atau Haji itu nomor satu. Jika seperti ini, maka mereka akan cenderung menganggap bahwa kalau sudah ke beribadah ke Arab, otomatis semua perbuatan mereka sudah benar. Karena sekarang mereka sudah mendapatkan status 'Haji'. Karena mereka sudah berhasil mengumpulkan harta untuk mencapai status tersebut. Dan segala macam indikator yang dibiaskan nafsu manusia lainnya.

Nah, apa bedanya dengan kalangan menengah atau atas? Kalau mereka minimal sudah tahu, atau minimal memiliki kecurigaan, bahwa sekedar relatif kaya atau berkuasa (mendapatkan kemuliaan di hadapan sesama manusia) saja nggak cukup untuk bisa mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah. Mereka minimal sudah merasakan bahwa yang mereka kejar-kejar semenjak miskin hingga akhirnya kaya ini, bukanlah sekedar dijunjung sebagai orang kaya, orang terhormat, dan terpelajar. Ada sesuatu yang lebih dari itu. Yang jelas, kemuliaan di hadapan manusia itu tidak sama dengan kemuliaan di hadapan Allah.

Singkatnya, orang kalangan rendah, jika sudah mulia di hadapan sesamanya, rata-rata memiliki keyakinan ABSOLUT bahwa mereka sudah diterima ibadahnya di hadapan Allah sehingga mereka sangat susah untuk didorong untuk berusaha melaksanakan rel sebelah kanan: sadar, tabah, dan sabar dengan niat karena Allah semata. Sebaliknya, mereka yang berada di atasnya rata-rata masih memiliki KERAGUAN akan kenyataan tersebut, kenyataan "apakah benar ibadah mereka sudah diteirma oleh Allah?", sehingga mereka lebih mudah untuk didorong untuk melakukan rel sebelah kanan: sadar, tabah, dan sabar dengan niat karena Allah semata.

Tentu saja hal ini bukanlah sebuah pendefinisian absolut berdasarkan strata sosial manusia. Ini hanyalah hasil agregat. Setiap individu manusia itu berbeda. Tidak semua orang yang berada di kalangan bawah memiliki sifat seperti ini dan tidak semua orang yang berada di kalangan atas memiliki kecenderungan seperti itu. Tetapi mayoritas memang begini kenyataannya.

Terima kasih. Semoga cukup jelas.

-arli