ย 

FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Roh, Jasad, dan Teori Evolusi

Percobaan gagal makhluk hidup yang seperti mna yang dikehendaki ke 4 Muhammad itulah diantaranya manusia purba, ini mungkin saja pendapat saya sendiri...jelas nya tentu boleh ditanya ibu ririn๐Ÿ™‚๐Ÿ˜‰


Sangat terbantahkan teori evolusi dg kajian ilmu kebenaran ini, dalam teori evolusi ini pun ujung2nya buntu juga yang diistilahkan ada mata rantai yang terputus.! Ya benarlah terputus, sbb mereka dimusnahkan semuanya....! Setelah itu baru kemudiannya wajud makhluk baru manusia anak keturunan Adam dan Hawa sperti saat ini setelah dihukum keluar dari alam rohani, Gmna itu kira2 Mas Arli? ๐Ÿ™‚๐Ÿ™๐Ÿค—๐Ÿ˜‰


Wabihi wallahu a'laam...

ย 

Salam. Hal semacam ini baik Bu Ririn maupun saya tidak tahu pasti. Tetapi jika boleh menebak-nebak berdasarkan pemahaman yang sudah saya miliki hingga titik ini, jawabannya adalah tidak. Penjelasan di sini tidak serta-merta membantah Teori Evolusi.

Mengapa? Hal ini berkenaan dengan definisi antara Ilmu Kekuasaan vs Ilmu Kesaktian. Dalam Ilmu Kekuasaan, termasuk dalam hal ini Sains, sebuah penjelasan akan kejadian itu hanya akan dianggap valid, dianggap benar sebagai sebuah fakta, hanya jika kejadian yang sama dapat dilakukan, diamati, dan diukur berulang kali di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja, selama persyaratannya sudah terpenuhi (kasarnya begitu). Dengan kata lain, Ilmu Kesaktian (yang merupakan prasyarat sehingga bisa tercipta gabungan antara roh dan jasad), yang hanya bisa dilakukan dan diamati oleh makhluk-makhluk tertentu saja, makhluk yang juga tidak bisa dilihat mata, makhluk yang tidak terdiri dari atom sehingga tidak dibatasi hukum-hukum universal di alam semesta ini, alias roh-roh yang memiliki Kesaktian, tidak akan pernah bisa memenuhi persyaratan tersebut.

Untuk bisa memenuhi persyaratan tersebut, dibutuhkan Keputusan dari YMK untuk mengubah sebuah poin ilmu Kesaktian tertentu menjadi Ilmu Kekuasaan. Keputusan ini kemudian akan dilaksanakan oleh kelima Nur Muhammad dengan memprogram poin Ilmu Kesaktian tersebut menjadi sebuah ketetapan yang universal di alam semesta ini, menjadi Ilmu Kekuasaan.

Contoh: ketika 'orang pintar' menyembuhkan penyakit parah yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter. Meskipun dapat difoto kondisi sebelum dan sesudah, kenyataannya Ilmu Kesaktian tersebut tidak bisa direproduksi secara berulang-ulang dengan cara yang sama persis sehingga bisa menghasilkan hasil yang sama persis juga, oleh orang yang berbeda. Penyembuhan tersebut tidak memenuhi hukum-hukum Fisika, Kimia, atau Biologi. Dalam kondisi begini, akan menjadi sangat tidak bertanggung jawab jika seorang ilmuwan mengklasifikasikan penyembuhan 'orang pintar' tersebut sebagai Ilmu Kekuasaan (sains). Alhasil, kesembuhan ini tidak akan pernah bisa dimasukkan sebagai fakta yang saintifik (Scientific). Alhasil, pengobatan tersebut selamanya hanya akan menjadi 'pengobatan alternatif'; kecuali persyaratan yang saya sebut tadi sudah terpenuhi.

Selain itu, yang saya tahu ilmu Kesaktian yang Menghendaki memiliki konsekuensi yang panjang karena berpengaruh terhadap roh setiap individu yang terlibat. Ilmu Kekuasaan, sebaliknya, hanya berpengaruh ke jasad. Jadi dalam jangka panjang lebih aman.

Terus gimana donk? Ya, hal ini tidak perlu diperdebatkan. Biarkanlah Ilmu Kesaktian itu menjadi ilmu Kesaktian dan ilmu Kekuasaan menjadi ilmu Kekuasaan. Jika memang membutuhkan penjelasan scientific, ya gunakanlah dasar ilmu sains. Jika membutuhkan penjelasan yang lebih, ya boleh-boleh saja meyakini penjelasan Ilmu Kesaktian. Janganlah dicampur-campur.

Tetapi harus ingat! Masing-masing ilmu tersebut juga memiliki konsekuensi tersendiri. Kelebihan ilmu Kekuasaan adalah lebih dapat diandalkan. Jika kita ingin berbagi manfaat dengan orang lain, lebih besar kemungkinannya manfaat tersebut akan terbagi dengan orang lain jika informasinya berdasarkan penelitian yang teruji. Akan tetapi dalam kondisi-kondisi tertentu, akan sangat sulit bagi kita untuk bisa hidup hanya dengan mengandalkan yang pasti-pasti aja.

Yah, ini merupakan Pilihan Hidup. Dan keduanya merupakan sarana kehidupan, bukan tujuan. Tidak peduli bagaimana kejadian aslinya di masa lalu, ketika manusia tercipta, hal ini sama sekali tidak mengubah apa yang perlu kita lakukan dalam kehidupan kita sekarang: yaitu mengisi bidang demi membuahkan manfaat dengan niat karena Allah semata. Jangan sampai terjebak nafsu rasa aku, rasa suci, dan rasa minta puji sehingga justru terbelokkan dari kenyataan ini.

Sedangkan mengenai rantai putus dan penjelasannya dengan lebih detil mengenai manusia purba dan manusia modern juga sama. Saya juga belum tahu dengan tepat. Mungkin di masa depan, ketika umat manusia sudah lebih fitrah, pengetahuan mengenai hal itu akan dibuka oleh YMK. Mungkin di masa depan, kejadian yang hanya bisa terjadi lewat Kesaktian tersebut bisa direproduksi lewat Kekuasaan.

Semoga cukup jelas. Terima kasih.

arli

ย 

@Ayat Tersirat jazakaLlahu kastira tksh Mas Arli atas pencerahannya, ya benar, tetap fokus pada tujuan menjadi hamba dan khlifahNya dialam semesta ini, memberi manfaat sebesar-besarnya dalam mengisi bidang kehidupan ini baik dalam hubungab pada Allah dan sesama manusia dg memenuhi 4 syarat pada masing2nya...๐Ÿ™๐Ÿ™‚


Kan gak tepat sekali, sibuk berbahas/berdebat hal2 yang sejatinya tak terlalu penting, hanya menduga2, lalu kita malah jadi meninggalkan kewajiban (iradat bersih) lahir dan batin, solat misalnya dll...


Inilah yang kita takutkan dan bimbangkan, dapatlah dipastikan kita jika dlam keadaan yang sebegini dlam KENDALI NAFSU...jd gak dapat manfaat apa2 deh dalam pembahasa/perdebatan tersebut..๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜Ÿ

ย