FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Perkara Isra' Mi'raj dan Kewajiban Shalat

Salam mas Arly dan ibu Ririn, mau nanya ni mas, mungkin agak keluar dari konten, maaf sebelumnya..

Pertanyaannya, pernah saya dengar bahwa salah satu yg menjadi dasar sholat lima waktu adalah peristiwa isro' mi'raj nya nabi SAW dimana beliau menuju ke hadapan zat Alloh SWT dengan diantarkan malaikat Jibril sampai pada batas tertentu, saat perjalanan beliau bertemu dg para nabi/rasul termasuk nabi Ibrahim dan Isa. Dan setelah sampai menemui zat-Nya beliau diberi perintah utk melaksanakan sholat yg tadinya banyak sekali waktu dan rokaat hingga 5 kali waktu dlm sehari. Peristiwa ini ada perdebatan, ada yg menganggap bahwa waktu itu rasul SAW benar benar bertemu dg Alloh SWT secara fisik, namun ada juga yg menganggap kalau Rasulullah SAW hanya duduk saja sedangkan yg pergi adlh ruhnya.

Bagaimana ilmu kebenaran menjelaskan mengenai hal ini secara tersurat dan tersirat nya?

Mohon maaf, terimakasih.

 

Jika kita percaya nabi isa diangkat kelangit secara utuh, knapa kita ragu dengan isra' mi'rad secara nyata. Nabi muhammad adalah nabi dengan peringkat spiritual yang tinggi dan nabi seluruh umat manusia, tidak perlu diragukan lagi bahwa beliau telah melihat Allah secara langsung.

(Komentar pemirsa yang lain)

 

Salam.

Sudah menonton KRM1: Pengkultusan? Di situ sudah terkandung jawabannya. Dan juga pembahasan mengenai Kodrat Irodat di KRM nomor berapa lupa saya.

Saya akan coba jelaskan lagi secara singkat di sini.

Mengapa hal ini perlu dibahas?

Kenyatannya adalah kalaupun kita bahas atau perdebatkan, sama sekali tidak ada manfaatnya bagi kita secara pribadi dan sesama di hadapan Allah.

Oh ya? Kok bisa?

Karena pasti akan dibelokkan dan dibiaskan nafsu kita masing-masing. Jika kita bahas dan perdebatkan perkara keajaiban di masa lalu semacam ini, yang ada rasa aku, rasa suci, dan rasa minta puji kita masing-masing yang akan memanfaatkan celahnya. Contoh:

Mereka yang meyakini kejadian ini akan merasa tervalidasi keyakinannya jika saya katakan "Iya, benar seperti itu." Padahal benar ataupun tidak kejadian tersebut, tidak serta merta diri otomatis menjadikan diri kita sudah benar di hadapan Allah.

Begitu juga sebaliknya. Jika saya katakan, "Tidak, bukan seperti itu kejadiannya." Mereka yang menentang kejadian tersebut akan merasa diri mereka sudah benar jika tidak meyakini, bahwa tidak ada sama sekali manfaat dari meyakini kejadian tersebut. Padahal benar ataupun tidak kejadian tersebut, tidak berefek dengan kedudukan kita masing-masing di hadapan Allah.

Kedudukan kita di hadapan Allah adalah kesadaran, ketabahan, dan kesabaran dalam membuahkan manfaat secara pribadi, sesama, lahir dan batin dengan niat karena Allah. Bukan apakah junjungan kita ketemu atau tidak dengan Allah secara langsung.

Kebayang?

Saya tekankan sekali lagi: keistimewaan apapun yang diterima atau diberikan oleh junjungan kita, nggak akan serta merta menaikkan atau menurunkan kedudukan kita di hadapan Allah. Oleh karena itulah, saya harap Anda di masa depan selalu menahan diri untuk tidak menanyakan pertanyaan semacam ini, yang apapun jawabannnya hanya akan menebalkan nafsu di dalam hati kita.

Semoga cukup jelas.

NB: jawaban pemirsa di samping saya ini contoh konkrit kasus yang saya sebutkan di atas.