FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Kebijaksanaan dan Level Keimanan

Dear mas arli,, sy ingin bertanya.

Sampai saat ini sy msh penasaran adakah korelasi dan perbedaan antara kendali fitrah dan kedewasaan/kebijaksanaan ?

 

Salam.

Kebijaksanaan itu kebanyakan sumbernya dari pengalaman pribadi, atau bisa juga dibangun dengan membaca, mendengarkan, atau berdiskusi mengenai pengalaman orang lain atau situasi yang bisa diperkirakan meskipun belum terjadi (hypothetical situation). Seseorang yang memiliki kendali fitrah, BISA menjadi lebih bijaksana dalam segala hal, karena relatif mampu mengenali dan mengendalikan nafsunya. Tetapi seseorang yang bijaksana, BELUM tentu atas kendali fitrah.

Sebab kendali fitrah kadangkala juga mengarahkan manusia pada tindakan yang tidak bijak. Contoh: ketika situasi tidak adil terjadi di depan mata, kita memilih untuk menggunakan pendekatan Ifrit dan langsung berusaha menegakkan keadilan tersebut. Tetapi apakah kita sudah mengetahui semua permasalahannya dari awal hingga akhir? Bagaimana jika keadilan dalam asumsi kita itu terlalu sempit dan berbeda dengan kenyataan yang sesungguhnya?

Contoh lain: ketika situasi berantakan di depan mata, terjadi pelanggaran terhadap aturan-aturan tertentu dalam masyarakat, kita memilih menggunakan pendekatan Adam dan langsung berusaha mengatur. Tetapi apakah kita sudah mengetahui semua permasalahannya dari awal hingga akhir? Bagaimana jika keteraturan tersebut justru menimbulkan ketidakadilan sehingga kondisi berantakan tersebutlah justru lebih adil bagi anggota masyarakatnya?

Sebaliknya, kendali nafsu juga seringkali mengarahkan manusia pada tindakan yang bijak. Contoh: ketika situasi tidak adil terjadi di depan mata, kita memilih berdiam diri karena kita belum tahu permasalahannya. Tetapi apakah tindakan tersebut dipicu fitrah, bukan nafsu? Apakah kita berdiam diri benar-benar karena berusaha adil dalam jangka panjang ataukah karena sejak awal kita tidak peduli? Atau karena jika bertindak langsung maka nama kita akan jelek di mata masyarakat? Mengingat orang yang bijak dan panutan masyarakat itu tidak boleh terburu-buru? Mengingat kita sebagai anggota masyarakat yang baik harus mematuhi peraturan yang berlaku?

Dan begitu seterusnya.

Singkatnya, banyak sekali dimensi 'kebijaksanaan' sebenarnya, banyak sekali perspektif, sehingga tidak bisa langsung dikorelasikan dengan kendali fitrah ataupun nafsu. Ada pertimbangan 7 lapisan manusia dengan komposisi yang berbeda-beda, ada pertimbangan jenis kasih sayang fitrahnya dengan komposisi yang berbeda-beda juga.

Ada kalanya langkah yang bijak itu justru Nafsu, ada kalanya langkah yang bijak itu Fitrah. Ada kalanya tindakan yang tidak bijak itu Fitrah, ada kalanya tindakan yang tidak bijak itu Nafsu. Kenyataan inilah yang menunjukkan betapa Urusan Rohani (rel sebelah kanan) itu meskipun mirip sebenarnya berada dalam dimensi yang berbeda dengan Urusan Jasmani (rel sebelah kiri).

Kedua rel tersebut seringkali tercampur-campur karena memang kita sebagai manusia, memiliki roh sekaligus jasad. Dan itulah justru fungsi dari ujian kehidupan, agar kita bisa terus memilih dalam prosesnya, apakah akan menggunakan fitrah ataukah nafsu. Itulah sebabnya kita tidak bisa menilai apakah tindakan seseorang itu Fitrah atau Nafsu hanya dari satu keputusan yang diambilnya dalam satu titik saja (seperti contoh ketika melihat ketidakadilan di atas).

Semoga cukup jelas.

-arli