FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Fainnaka...

Salam mas Arli

Minta dijelasin. Pd do'a dzikir yg kalimat "wanlbil jabati jadir".

Ada di ayat Al-qur'an gak?

( surat & ayat brp ?).

Kalo gak.

Pd kt "jadir". Itu pakai hrf hijaiyahnya gmn?

Jim, dal, ro.

Pada dal ada tazjidnya gak ?

Pd "dir", antar dal -ro ada hrf "ya" nya gak ?.

Trims

Sgt ditunggu jwb.nya ...

Wassalaam.

 

Entahlah. Saya juga kurang tahu. Mungkin pemirsa yang lain tahu apa bahasa Arab dari: "Dan hanya Engkaulah Yang Maha Menuruti ya Allah"?

Intinya adalah sebagai berikut.

Zikir dan Doa ini merupakan sarana bagi kita sebagai manusia untuk berkomunikasi dan memperbesar sinkronisasi dengan Malaikat Muqorrobin. Jika kita berada di Jembatan atau Dunia Lama dan masih dipengaruhi roh, dengan melaksanakan Zikir dan Doa ini kita akan memanggil Malaikat Muqorrobin Nurani dan Yassin untuk membantu kita melepaskan diri dari roh-roh tersebut. Jika kita berada di Jembatan dan sudah lepas dari pengaruh roh, dengan melaksanakan Zikir dan Doa ini kita akan memanggil Malaikat Muqorrobin Lummah dan Syariat untuk membimbing kita ke Dunia Baru. Jika kita sudah di Dunia Baru, maka Zikir dan Doa ini akan membantu menyatukan fitrah kita dengan kedua Malaikat Muqorrobin tersebut.

Terus kenapa? Apa hubungannya dengan pertanyaan Anda?

Hubungannya adalah bahwa efektivitas Zikir dan Doa ini sama sekali tidak dipengaruhi apakah Anda mengucapkannya dengan benar sesuai dengan aturan Bahasa Arab. Zikir dan Doa ini merupakan kulminasi dari kemampuan Nur Muhammad yang sangat luas, dan sengaja didesain sesederhana mungkin agar siapapun yang mau dapat melaksanakannya. Oleh karena itulah, janganlah mau dikendalikan 'watak yahudi' atau 'ahli kitab' dengan berusaha mencari-cari celah atau permasalahan yang tidak ada, dengan mempersulit hal yang memang sengaja dibuat mudah. Lepaskanlah prasangka bahwa hanya "hal yang susah dan rumit" yang akan bisa efektif.

Zikir dan Doa ini ibarat mengucapkan 'Halo' atau 'Selamat Siang' ketika menjawab telepon. Ibarat mengucapkan 'Assalamualaikum' ketika bertemu orang lain. Ini hanyalah wadah atau tata cara dalam berkomunikasi antara manusia dengan Malaikat Muqorrobin. Dengan melaksanakannya, kita ibarat membuat sebuah pernyataan bahwa kita siap untuk berbincang-bincang di telepon, ibarat kita siap untuk mulai ngobrol secara langsung. Dengan melaksanakannya, kita membuat sebuah pengakuan kepada Malaikat Muqorrobin, sebagai lewatan YMK, bahwa kita sebagai manusia membutuhkan bimbingan mereka agar bisa menjadi "pemimpin bagi alam semesta".

Oleh karena itulah, janganlah menganggap bahwa efektif atau tidaknya kita dalam melaksanakan Zikir dan Doa ini ditentukan permasalahan sepele seperti grammar Bahasa Arab yang tepat. Sebab ketika melaksanakannya, MM dapat melihat semua niatan kita: rasa takut, rasa sakit, rasa marah, rasa benci, dan dari mana asal semua rasa tersebut, apakah fitrah atau nafsu; semuanya, bukan cuma ucapan kita di dalam pikiran atau yang keluar mulut. Dengan kata lain, tindakan bertanya teknis seperti ini meskipun terlihat baik sebenarnya justru sangat merendahkan Malaikat Muqorrobin.

Malaikat Muqorrobin itu merupakan entitas yang sangat cerdas. Lebih cerdas daripada manusia bahkan, karena mereka dibekali ilmu roh yang kita tidak punya. Jadi jika Anda merasa setelah melaksanakan Zikir dan Doa ini tidak ada perubahan sama sekali atau "Kok rasanya kurang efektif!": misalnya Anda tidak menjadi lebih cepat dalam memahami ilmu kebenaran, alasannya kemungkinan adalah karena ada yang salah dari niatan Anda dalam melakukannya daripada sekedar salah pengucapannya. Bahkan bisa jadi justru karena kita berpikiran seperti pertanyaan Anda itulah, meremehkan Malaikat Muqorrobin, alasan mengapa Zikir dan Doa yang kita laksanakan tidak terasa efektif.

Singkatnya, jangan sampai tertipu nafsu dan fokus ke teknis pelaksanaan Zikir dan Doa ini dan hal-hal tidak penting lainnya. Fokuslah pada usaha membersihkan niat Anda dan tingkatkan pemahaman Anda akan apa tujuan pelaksanaannya. Dan tentu saja, laksanakanlah sebanyak yang Anda bisa setiap hari.

Semoga cukup jelas. Jika Anda membuat pertanyaan ini atas dasar kebiasaan (akibat terbiasa ilmu kebaikan), tidak merasa ada yang salah dengan pertanyaan tersebut, saya harap pengertiannya. Sebab jawaban ini juga ditujukan bagi pemirsa yang lain yang berpikiran serupa.

Terima kasih.

-arli