FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Bagaimana tahu tindakan kita fitrah?

selamat malam bu ririn, memang sudah saatnya memperkenalkan pelajaran seperti ini karena sangat banyak manusia tdk menyadari bahwa setiap tindakan yang dialkukannya adalah antara oleh pikirannya, nafsunya atau akal dst. perbedaah perbedaan itu sangat tipis sekali. dalam hal ada pertanyaan dari sy dan tolong di jawab ya bu karena ini penting untuk wawasan saya. 1. Bagaimana cara kita mengetahui bahwa tindakan yang kita lakukan itu adalah tindakan FITRAH ? terimakasih bu.

 

Salam. Kalau kita bicara teknis, sebenarnya setiap niat dan tindakan yang kita lakukan PASTI ada nafsu dan fitrahnya, dua-duanya selalu memiliki porsi. Pertanyaan sesungguhnya adalah bagaimana caranya supaya FITRAH bisa mendominasi NAFSU, atau lebih tepatnya supaya pengaruh FITRAH berada di antara rentang 75%-90%, atau dalam bahasa lain Ikhlas dengan nilai lulus, atau cukup tinggi kemurnian niatnya. Pembahasan mengenai hal ini sudah dibahas di video-video sebelumnya dan setelahnya. Nah, sebenarnya, dalam setiap tindakan dan pikiran manusia itu selalu diberikan ujian, kesempatan supaya kemurnian niatnya bisa ditingkatkan, yang dapat berupa kesenangan ataupun kesusahan, yang biasa kita sebut sebagai ujian kehidupan. Jadi, permasalahan yang utama adalah bagaimana caranya supaya bisa menjawab berbagai macam ujian kehidupan itu dengan benar, sehingga dalam prosesnya mampu meningkatkan kemurnian niat kita sampai pada tingkatan lulus. Itu fondasi dasarnya. Kalau mau yang lebih konkrit, tipsnya, adalah dengan cara memberikan tag (tanda/nama/label) dalam setiap perbuatan dan pikiran kita sendiri setiap hari dalam setiap kesempatan. Misalnya, lagi nonton berita di youtube, tiba-tiba merasa marah, atau sakit hati atau senang, atau bangga, dan segala bentuk reaksi. Begitu muncul perasaan-perasaan semacam ini, langsung introspeksi. Kenapa saya merasa begitu? Mengapa saya marah? Mengapa saya merasa bangga, padahal saya cuma sebagai penonton? Mengapa saya tersinggung? Dan runtut terus ke hulunya hingga ketahuan apakah pemicunya rasa kasih atau sayang (lihat TF15), atau justru rasa aku, rasa suci, dan rasa minta puji. Nggak harus bener. Yang penting tetap introspeksi selalu dalam segala bentuk interaksi dalam kehidupan. Dan jangan lupa juga pertimbangkan prinsip dasar di paragraf pertama tadi, masalah presentase. Tergantung keikhlasan Anda dalam menjalaninya, cepat atau lambat, pada suatu titik Anda akan mampu mengenali yang mana FITRAH dan yang mana NAFSU dalam setiap pikiran Anda sendiri, dan ketika lebih jauh lagi, Anda juga akan sensitif terhadap nafsu dan fitrah orang lain. Tapi sekali lagi saya ingatkan, prosesnya bisa bertahun-tahun, bahkan pada orang tertentu bisa menghabiskan seluruh sisa hidupnya hanya untuk mencapai tahapan ini. Kurang lebih begitu. Semoga cukup jelas. -arli

 

Alhamdulullah anda sdh meluangkan wkt untuk menjwb sekaligus menjelskannya. terimkasih mas ari..lnjutkan membuat videonya karena sdh saatnya disampaikan kepada orang lain yg ingin belajar. sy sll menonton videonya dan apa yg telah di jelaskan dalam setiap video anda maka sama percis apa yg sy alami, hanya sy tidak bs menjelaskannya kecuali cukup mengetahui dan berusaha memahaminya.. trim