FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Mendidik melalui Game?

Salam bu ririn dan mas arli Anak saya lahir diatas th 1999,berarti roh lama/reinkarnasi. Sukanya main game online,bagaiman cara MM membimbing anak saya melalui game tsb. Bagaimana cara mendidik anak menjadi anak yg sholeh yg mengutamakan fitrahnya drpd nafsunya. Terima kasih

 

Salam. Pertanyaan yang bagus. Jawaban ini mohon diterima dengan hati yang dikendalikan fitrah. 1. Anda sendiri harus menang lawan nafsu, kalau ini aja nggak mampu, jangan harap bisa mendidik anak untuk melakukan hal yang serupa. 2. Sadarilah juga bahwa apapun itu kelakuan mereka, hobi mereka, itu juga bagian dari ujian kehidupan yang ANDA harus jawab. Bagaimana sikap Anda, dan usaha Anda dalam menghadapi kenyataan yang dilewatkan melalui anak Anda tersebut, harus menggunakan fitrah, bukan nafsu. 3. Bagaimana contohnya? Ya, coba pahami sendiri apa manfaat dari game tersebut. Apa arti tersirat yang bisa diambil dari situ. Tetapi Anda tidak akan mampu melakukan hal ini, jika Anda sendiri belum mumpuni membaca ayat-ayat Allah yang tersirat, yang ada di mana-mana. Kembali lagi ke poin nomor 1. 4. Contohnya deh? Ada banyak pendekatan yang bisa digunakan. Contoh: Anda coba aja sendiri, coba memahami apa yang membuat sebuah game online itu menarik. Atau Anda terus membuka komunikasi ke anak Anda, untuk menjelaskan apa sih yang membuat mereka tertarik dengan hobi tersebut. Atau Anda bisa juga tidak perlu memahami, yang penting mendukung, yang penting Anda sudah membuat batasan-batasan tersendiri supaya anak Anda tadi nggak melewati batas-batas ketagihan dan urusan yang lain terbengkalai. Dan masih banyak lagi. 5. Pendekatan-pendekatan semacam ini harus dipikirkan dan dipertimbangkan sendiri. Anda harus mengenal diri Anda sendiri, kapan yang ngomong nafsu dan kapan fitrah, dan sekaligus anak Anda juga, kapan dia bertindak karena nafsu dan fitrah. 6. Sadarilah juga bahwa permasalahan semacam ini bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan sehari-dua hari. Urusan ini bukanlah sekedar mendidik Anak Anda supaya bermanfaat, tetapi yang lebih utama justru mendidik diri Anda sendiri supaya bisa bermanfaat buat anak Anda. Kalau nggak bisa melaksanakan yang kedua (mendidik diri sendiri), jangan harap bisa melaksanakan yang pertama (mendidik orang lain), dan lulus ujian kehidupannya. Ini sekedar konsep dasarnya yang terpikirkan sekarang. Dalam kehidupan nyata, banyak sekali pertimbangan lain yang bisa dipikirkan dan dilakukan, dan akan diinspirasikan oleh MM seiring dengan waktu. Saya susah juga menjelaskannya, sebab harus mempertimbangkan sifat, karakter, pendidikan, situasi dan kondisi di rumah, dan masih banyak lagi. Intinya, kalau Anda sendiri secara rohani udah menyatu dengan MM, Anda akan kepikiran sendiri (dibimbing MM) langkah-langkah konkritnya sesuai kondisi spesifik kehidupan di keluarga Anda sendiri. Kurang lebih begitu. Terima kasih.