FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Mengenai bersedekah di jalan yang benar

Salam bu ririn, maf ni saya mau tanya ilmu ke benaran , jdi saya d terangkan soal ilmu ke benaran masalah yg x6 dan x9 x3 x4 x3 ituh maksud nya bai mna ya ,, dan yg d maksud bersedekah yg berhak menerima orang yg bagi mna ya mohon balesanya

 

Salam. x6 x9? Saya nggak ngerti maksudnya. Sedangkan mengenai bersedekah, bahwa ada orang-orang yang dikatakan lebih "berhak", penjelasannya sangatlah sederhana. Hal itu merupakan sebuah usaha yang bersumber dari keempat Muhammad, yang tentunya juga bisa ditelusuri ke bawah hingga ke setiap individu manusia, logika yang sangat dasar. Yaitu bahwa ada orang-orang dalam kondisi dan situasi tertentu yang KEMUNGKINANNYA LEBIH BESAR untuk bisa menggunakan harta/sumber daya dengan lebih bermanfaat dibandingkan manusia yang lain. Misalnya, dengan harta sebesar 100rb, bagi seseorang yang kaya bukan seberapa, tidak terlalu bernilai. Tetapi bagi seseorang yang miskin, bisa jadi pemisah antara makan hari ini atau tidak. Dalam kondisi ini, dalam perspektif ini, tentu saja seseorang yang miskin itu menjadi lebih BERHAK bukan, jika dibandingkan dengan yang kaya? Mereka kemungkinan akan lebih mampu untuk bersyukur bukan, jika dibandingkan dengan yang kaya? Kasarnya begitu. Sayangnya, pemahaman ini pun masih sebatas kebaikan, masih bisa dengan mudah dibiaskan nafsu. Bagaimana mungkin? Contohnya: ada orang yang sengaja tampil miskin, meskipun sebenarnya kaya, supaya bisa dianggap lebih berhak. Atau ada orang yang sebenarnya mampu untuk berusaha, tetapi malas, lebih suka meminta-minta daripada bekerja. Ada juga manusia yang memanfaatkan kenyataan bahwa sebagian manusia berpikiran seperti itu, sehingga berpura-pura menghimpun dana untuk membiayai orang yang "lebih berhak", meskipun sebenarnya kemiskinan tersebut merupakan kondisi yang dia ciptakan sendiri, misalnya membodohkan orang-orang yang berada di sekitarnya supaya terus ketergantungan terhadap pertolongan dirinya, bukannya justru mendidik mereka supaya bisa maju dan cari penghidupan sendiri, supaya lebih bermanfaat. Selain itu, nafsu rasa suci juga cenderung membiaskan nafsu orang yang "miskin" berkenaan dengan status "berhak" ini. Bagaimana? Dengan membuat mereka merasa memiliki sebuah posisi khusus, status khusus, kondisi khusus, yang menjadikan mereka PASTI lebih mulia (suci) daripada orang yang mampu, sehingga mereka merasa berhak MENUNTUT untuk diberi penghidupan oleh yang lebih kaya. Ini pembiasan nafsu rasa suci. Jadi jangan sampai tertipu nafsu, "berhak" di sini digunakan istilahnya karena secara sekilas memang sebagian manusia terlihat lebih besar kemungkinannya untuk bisa memanfaatkan suatu harta, meskipun belum pasti juga, karena masih ada tipuan nafsu. Mereka yang "berhak" tersebut masih bisa juga malah menggunakannya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Misalnya, ketika dikasih rezeki dadakan, bukannya ditabung untuk sekolah atau memikirkan masa depan, malah dipakai untuk pamer harta ke teman-teman sekitarnya. Kenyataan ini akibat nafsu, ketidakmampuan untuk membedakan hal-hal yang bermanfaat dengan yang tidak bermanfaat, nggak ada hubungannya dengan kaya atau miskin. "Berhak" bukan berarti manusia-manusia golongan tertentu, pasti lebih mulia atau suci, pasti bisa lebih bisa memanfaatkan harta dengan benar. Jangan sampai salah kaprah. Kurang lebih begitu. -arli

Oh, satu lagi. Berdasarkan pemahaman yang sama dengan di atas, konsep yang serupa juga bisa diterapkan dalam beribadah, yaitu dalam rangka membersihkan rasa aku terhadap harta. Istilah "berhak" di sini mengacu pada kenyataan, bahwa dalam kondisi dan situasi manusia yang berbeda-beda, ada kalanya harta yang kita miliki MEMANG bisa lebih bermanfaat kalau kita berikan kepada orang lain, kepada orang yang berdasarkan penilaian dan pengamatan yang kita lakukan, bisa menggunakannya dengan lebih bermanfaat. Misalnya, saya punya duit, udah hampir mati sebentar lagi. Nah, saya lihat ada orang yang mampu membuat sebuah komunitas yang bermanfaat banget kelihatannya. Nah, daripada duit ini diperebutkan sama keluarga, mendingan saya kasih dia. Contoh gampangnya gitu. Kebayang kan? Intinya, kemampuan untuk melihat kenyataan-kenyataan semacam ini merupakan akibat pengaruh fitrah juga, sebenarnya.

 

Untuk menjalankan ilmu kebenaran ituh seperti apa,, apa kah harus solat yg 5 waktu, puasa bca Al q'uran bersedekah menyantuni ank yatim,, apakah seperti ituu

Yg d terangkan sahabat saya soalnya beda banget, yg d terangkan ke saya kita tuh harus mengikuti jejak ROSUl SAW mensucikan yg 6 masa yaitu nene moyang kita,, untuk kembali ke pada Allah SWT, dan bersedekah pun harus kepda yg berhak menerima nya yaitu DERAJAT NYA YG lEBIH TINGGI DARI KiTA yaitu kepda orang orang yg ber jalan d jalan ALLAH SWT ,,

 

Ya, beda-beda boleh aja. Setiap individu manusia kan memang beda-beda tingkat keimanannya. Beda-beda kodrat dan irodatnya. Jadi, bukan hal yang aneh. Tugas Malaikat Muqorrobin lah untuk memastikan, nggak peduli jalan mana yang manusia pilih, ibadahnya bisa diterima oleh YMK. -arli