FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Perbedaan Definisi Nafsu

Salam mas arli Saya masih bingung tentang nafsu Menurut ajaran kebaikan(menurut ulama/syaikh abdul qodir jaelani,imam al ghazali) bahwa nafsu ada 7, tp disini cuma ada 3. Bagaimana mengkombinasikan ajaran kebaikan dan ajaran kebenaran.

 

Salam. Bagaimana mengkombinasikannya? Ya, terserah Anda lah. Meskipun di sini disebutkan nafsu ada 3, bukan berarti tindakan nyata akibat pengaruh nafsu juga cuma 3. Bukan berarti sifat-sifat sebagai akibat kendali nafsu cuma 3. Jangan lupa, perbuatan yang baik di hadapan manusia pun juga sebenarnya bisa jadi sudah tercemar oleh nafsu sehingga nggak bakal terlihat kebusukannya jika dilihat menggunakan mata saja, standar jasmani saja. Contoh: santun dalam berucap dan berperilaku. Kalau udah dikendalikan nafsu, kesantunan dapat dengan mudah berubah menjadi kemunafikan. Keengganan untuk terus terang, kemudian terjadi salah paham, terus kemudian malah nggak ikhlas pada akhirnya. Atau sakit hati karena orang lain tidak mampu mengira-ngira maksud kita yang sebenarnya. Ngomong A padahal maksudnya B. Terus giliran A yang terjadi beneran, pasti bakal sewot atau dongkol di dalam hati. Contoh semacam ini kalau dilihat ke belakang, dari perspektif yang agak jauh, kan baru terlihat bahwa itu bisa dikategorikan sebagai kemunafikan justru. Tentu saja yang berhak menilai adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Ini contoh tipuan nafsu rasa minta puji. Sebaliknya juga sama, jika kita memilih ngomong apa adanya dalam berucap (alias cenderung kasar). Kalau udah dikendalikan nafsu rasa suci, "kejujuran" dalam berucap bisa juga dibiaskan sehingga manusianya merasa bahwa kalau dia sudah bisa bicara "apa adanya", itu berarti dia juga pasti bisa menerimanya dengan niat yang sempurna, padahal belum tentu juga. Misalnya, ada dua orang si A dan si B. Si A minta sesuatu dengan terus terang ke si B. Terus karena si B tersinggung dengan cara bicara si A, nggak diturutin, menolak. Terus si A sakit hati, dan marah karena permintaannya nggak diturutin. Mengeluh karena si B terlalu mudah tersinggung. Terus di kemudian hari, giliran ada si C yang terus terang sama si A, sama persis seperti si A dulu ke si B, eh, ternyata si A juga tersinggung. Sama aja. Di dalam perspektif pribadinya, kalau udah dibiaskan nafsu, si A nggak bakal sadar sama sekali bahwa dirinya telah mempraktekkan kemunafikan. Pasti akan menggunakan standar dobel buat dirinya sendiri dengan orang lain. Kalau dirinya yang melakukan pasti bener, sedangkan kalau orang lain melakukan hal yang sama pasti salah. Ini contoh tipuan nafsu rasa suci. Kesimpulannya, tidak begitu penting sih sebenarnya, mana pedoman yang Anda gunakan mengenai definisi nafsu ini. Segala macam perbuatan baik ataupun buruk bisa dibiaskan oleh nafsu, tanpa kecuali. Ada aja caranya bagi nafsu untuk menyesatkan. Semakin pintar (pikir), imajinatif (akal), dan emosional/sensitif (rasa) manusianya, semakin banyak dan halus caranya, semakin susah dideteksi. Kalau memang Anda mau, ya hindari aja seluruhnya tanpa kompromi, sesuai kemampuan Anda sendiri. Tidak peduli apa kata orang lain. Tidak peduli apa penilaian orang lain. Memang setiap individu manusia berbeda-beda level keimanannya. Kalau sama justru aneh. Kalau sama justru ada kemungkinan sudah tercemar rasa minta puji (keinginan untuk diterima sebagai anggota dalam sebuah kelompok). Begitulah kenyataannya, sayangnya. Kemandirian, dan individualitas di hadapan Allah. Justru pendekatan semacam inilah yang lebih besar peluangnya untuk lulus dengan keikhlasan 7.5 daripada sekedar mengandalkan teori, atau terlalu terfokus pada keilmuan tertentu. Itu karena ada Malaikat Muqorrobin sekarang.