FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Membaca Al-Quran

Salam. Saya mau izin tanya bang arli & bu ririn, sumber yg digunakan dalam video yt channel ini selain Malaikat muqorrobin juga Nur Muhammad yaitu ayat tersirat (Al-quran). Saya sebagai wanita yg membaca, menghafal ataupun memahami al-quran apakah akan Berdosa jika dalam keadaan tidak suci (haid)? mengingat wanita tidak selalu dlm keadaan suci. Karena pemahaman saya yg masih tingkat tk mungkin tdk tau indikasi kebenaran dari malaikat muqorrobin. Saya mohon penjelasannya

 

Salam. Saya akan mencoba menjelaskan. Semoga informasi ini dapat Anda terima dengan hati yang dikuasai fitrah, bukan nafsu. Ilmu kebenaran, perbedaan utamanya dengan kebaikan, atau kalau mau lebih spesifik kurikulum SD ke atas, bedanya dengan kurikulum TK adalah bahwa segala ibadah itu perlu dilakukan atas dasar kebutuhan manusianya sendiri, bukan kebutuhan YMK. Apa artinya dalam konteks kasus yang Anda sebutkan di atas? Artinya kegiatan Anda membaca, menghafal, atau memahami Al-Quran itu perlu Anda lakukan atas kebutuhan sendiri, bukan karena Allah butuh disembah atau dipahami. Ibadah tersebut harus didasarkan pada pemahaman bahwa Anda membutuhkan sesuatu, entah apa itu tergantung definisi Anda sendiri, sehingga melakukan ibadah tersebut. Nah, di sinilah justru pertanyaannya yang paling penting justru. Apa sih yang Anda butuhkan sehingga Anda melakukan ibadah tersebut? Apa sih yang Anda harapkan akan terjadi dengan membaca, menghafal, atau memahami Al-Quran? Kalau Anda nggak bisa menjawab pertanyaan tersebut, bisa dipastikan seberapa banyak pun ibadah tersebut Anda lakukan, setekun apapun Anda mengulang-ulang, tidak akan ada manfaatnya. Pasti bakal terbiaskan nafsu dan Anda justru semakin tebal rasa aku, rasa suci, atau rasa minta pujinya, atau bahkan tiga-tiganya sekaligus. Sia-sia. Apakah Anda ingin mendapatkan pahala? Kita sudah membahas ayat tersirat mengenai pahala di Channel ini, silakan disimak lagi videonya jika memang itu tujuan Anda. Apakah Anda ingin supaya hidup Anda lebih nyaman dan lancar? Nah, ini akan dibahas di episode selanjutnya HK3 mengenai Ilmu Rel Kereta. Apakah Anda sedang mengalami masalah berat dalam kehidupan dan membutuhkan ketenangan? Apakah Anda sekedar melakukan kebiasaan dari kecil? Apakah Anda sekedar melaksanakan saran dari teman, guru, atau siapapun itu? Berbagai macam alasan inilah justru yang perlu dicari tahu. Sebab dengan menemukan motivasi Anda melakukannya itulah Anda sebenarnya sedang menggali diri, mencari tahu apakah ibadah yang saya lakukan ini sudah berdasarkan fitrah ataukah nafsu? Berapa persen niatnya karena itu perbuatan yang bermanfaat, atau bisa bermanfaat? Dan berapa persen yang karena minta dipuji atau supaya merasa lebih tinggi dari orang lain? Apa hubungannya motivasi atau kemurnian niat ini dengan pertanyaan Anda? Hubungannya adalah jika pertanyaan Anda seperti ini, maka sangat terindikasi bahwa Anda memang belum sampai pada titik yang saya sebutkan tadi. Belum sampai pada titik ketika ibadah tersebut adalah urusan Anda dengan YMK langsung, bahwa Anda murni ingin mendapatkan ridho-Nya, bahwa Anda ingin mengejar manfaatnya. Kok bisa? Ya, karena Anda nanya ke saya apakah Anda berdosa atau tidak. Coba renungkan pertanyaan krusial ini: "Memangnya saya Gusti Allah? Berhak menentukan apakah Anda berdosa atau tidak?" Sadarkah Anda, bahwa menanyakan apakah perbuatan ini itu berdosa atau tidak, boleh atau tidak, haram atau halal, dan semacamnya ke orang lain, entah itu teman, guru, atau ustadz, terutama yang berurusan dengan hubungan dengan Allah, adalah sebuah tipuan nafsu yang sangat halus? Kalau nggak sadar, maka sadarilah. Ketika Anda menanyakan "Boleh nggak? Dosa nggak?" semacam ini, Anda sedang berusaha mentransfer tanggung jawab untuk menentukan sendiri, apakah sebuah perbuatan itu manfaat atau nggak, ke orang lain. Bahwa Anda sedang meminta manusia lain untuk menjawab soal ujian kehidupan yang seharusnya Anda jawab sendiri. Kalau udah begini, bisa dipastikan Anda sendiri nggak akan naik kelas. Itu satu. Dua, pada suatu titik Anda akan mengkultuskan orang yang senang menjawab soal ujian Anda tersebut. Tiga, nafsu Anda justru semakin tebal meskipun saran dari mereka itu sangat baik sekalipun. Kenapa? Karena Anda cuma ikut-ikutan aja, berasaskan nafsu rasa minta puji, berasaskan males berpikir, males berperang melawan nafsu di dalam dirinya sendiri, bukan berasaskan kesadaran akan perbuatan bermanfaat. Kurang lebih begitulah penjelasan yang bisa saya berikan, jika Anda memang masih bingung seperti apakah wujud bimbingan dari Malaikat Muqorrobin. Seperti inilah contohnya. Dengan bimbingan Malaikat Muqorrobin, terutama Lummah dan Syariat, pemikiran-pemikiran semacam ini akan muncul sendiri dalam pikiran Anda, seiring dengan semakin luasnya wawasan yang Anda miliki, dan semakin besar usaha yang Anda telah lakukan dalam menjawab ujian kehidupan dengan benar. Anda nggak akan memiliki kebutuhan untuk memvalidasi perbuatan Anda di hadapan orang lain lagi, kecuali untuk menambah perspektif sehingga Anda sendiri bisa mengambil keputusan dengan lebih bijak, supaya peluang Anda untuk lulus ujian kehidupan semakin besar. Singkatnya, pertanyaan "apakah berdosa membaca Al-Quran ketika sedang haid?" adalah sebuah pertanyaan seorang manusia yang dalam beribadah masih beranggapan bahwa membaca Al-Quran adalah kebutuhan YMK, bukan manusianya sendiri. Ini adalah pertanyaan seorang manusia yang nggak paham, apakah tujuan dirinya sendiri melakukan ibadah tersebut. Pertanyaan seorang manusia yang belum ngerti juga apa manfaatnya berusaha membaca dan memahami Al-Quran. Kemungkinan cuma ikut-ikutan aja, atau kebiasaan, atau disuruh orang lain. Nggak ada substansinya sama sekali. Dan kenyataan inilah, yang dalam ilmu kebenaran, justru harus diubah pertama kali jika Anda memang ingin melangkah maju dalam sekolah kehidupan. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

 

Terima kasih atas penjelasannya