FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Penjelasan Panjang mengenai Dajjal

eumm izin Kalo boleh titip nanya boleh nggih.. dewasa ini banyak nya isu kemunculan fitnah dajjal. Dalam hal ini dideskripsikan dajjal itu nafsu dari manusia itu tersendiri yang menebal. Nah ada salah satu dalil hadist dan para ulama menyuruh menghafal kan surat al kahfi untuk menghindari fitnah dajjal tsb. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ “Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim no. 809) Dalam riwayat lain disebutkan, “Dari akhir surat Al-Kahfi.” (HR. Muslim no. 809) Dan kebanyakan orang menghafalnya karena takut akan fitnah dajjal tsb. Serta berlindung dri ayat tsb seolah-olah mantra tersendiri untuk berlindung tanpa tau makna nya dan tujuannya.. Pertanyaannya : 1. Kalau kita baca dengan bahasa jasmani dari ayat 1-10 adakah maksud dri tersendiri dri ayat tsb melalui bahasa rohani sehingga mampu menghindari dri fitnah dajjal..? 2. Titip salam untuk para beliau nggih..

 

Salam. Saya nggak bisa menjawab pertanyaan Anda ini dengan sempurna. Berikut ini hanyalah beberapa informasi yang saya tahu berkenaan dengan hal ini, Dajjal ini. Sebagai dasar awal pembahasan kali ini, saya copy paste di bawah ini, jawaban atas pertanyaan serupa oleh salah satu pemirsa yang sudah dijawab, di komentar video TF15 Kasih Sayang: ==== Dajjal seringkali dideskripsikan sebagai manusia yang "bermata satu". Mengapa? "Bermata satu" adalah ungkapan untuk menggambarkan kondisi manusia yang dikendalikan nafsu dengan sangat parah, akut, sehingga bukan sekedar tidak tahu mana perbuatan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat (kalau ini "buta total" justru), melainkan mengetahui dengan jelas justru definisi keduanya, apa saja perbedaannya, dan berbagai macam konsekuensi dari masing-masing perbuatan bermanfaat dan tidak bermanfaat tersebut, baik terhadap dirinya maupun orang lain, tetapi TETAP SAJA memilih untuk berpura-pura tidak tahu, tetap saja memilih kendali nafsu dalam segala tindakannya. Itu maksudnya "bermata satu": mengetahui dan mengerti, tetapi berpura-pura tidak tahu, tetap saja memilih untuk menutup mata. Dajjal dianggap berbahaya karena dia mengetahui bagaimana (cara) kebanyakan manusia terkendali oleh nafsunya, mengetahui dengan cukup detil cara kerja nafsu dalam diri (rata-rata) manusia, sehingga dapat dengan mudah memanfaatkan kenyataan tersebut demi mendapatkan keinginannya. Misalnya dengan memanfaatkan tata cara ajaran untuk mengesakan Allah (agama, atau keyakinan tertentu) sebagai alat untuk mengumpulkan kekuasaan, kesaktian, dan kekayaan. Contoh: mereka mengetahui bahwa rata-rata manusia memiliki rasa aku terhadap sebuah ras atau agama yang mereka miliki. Dan sebagian besar manusia juga memiliki rasa suci yang tinggi. Memanfaatkan kenyataan itu, mereka memfokuskan perbedaan dalam kehidupan sehari-hari dan mengubahnya menjadi sebuah kebencian yang memecahkan masyarakat. Mengapa mereka melakukan hal itu? Karena mereka bisa mendapatkan 3K dalam prosesnya. Mereka mampu memutarbalikkan fakta dengan canggih, mampu memasukkan dosis kebohongan yang tepat di tengah-tengah kumpulan fakta, sehingga bisa memutar artinya sesuai dengan keinginannya. Mereka tahu apa yang ingin Anda dengar, sehingga ucapannya pun bisa disesuaikan dengan pendengarnya. Jika seorang individu manusia yang dikendalikan nafsu ibarat seorang prajurit, maka Dajjal adalah seorang jenderal atau penguasa yang mampu menjadi komandan nafsu-nafsu yang ada di seluruh individu manusia tersebut, memiliki kemampuan dan kemauan untuk mempersatukan nafsu-nafsu yang relatif kecil tersebut menjadi jauh lebih besar dan kemudian mengarahkannya sesuai dengan tujuan yang mereka inginkan. Jika Anda mau melihat dengan jeli, sebenarnya manusia Dajjal udah ada di mana-mana. Mereka akan tampak baik dan mulia di depan mata, tetapi sebenarnya busuk semua di dalam hatinya. Manusia yang tidak memiliki kemampuan untuk membaca ayat-ayat Allah yang tersirat (manusia "buta total") akan dapat dengan mudah ditipu oleh manusia-manusia Dajjal ini. Dengan kata lain, ini bukan sekedar urusan raga, bukan sekedar seorang manusia yang memiliki satu buah organ mata yang sehat saja. Mata yang dimaksud di situ adalah "mata hati". Kurang lebih begitu. Semoga cukup jelas.

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah, berdasarkan pengertian di atas, apakah yang dimaksud dengan "fitnah dajjal"? Jawaban pertanyaan ini tergantung posisi masing-masing manusia. Maksudnya? Coba cari tahu sekarang, saat ini, Anda termasuk manusia yang "buta total", "bermata satu", atau "kedua matanya telah terbuka"? Kalau "buta total", berarti Anda belum mampu membedakan mana hal-hal yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat. Kalau "bermata satu", berarti Anda sudah mampu membedakan tetapi belum mampu atau mau melaksanakan yang lebih bermanfaat. Kalau "kedua mata telah terbuka" baru, sudah mampu membedakan, dan juga mampu dan mau mulai melaksanakan. Mengapa posisi seorang manusia ini berpengaruh terhadap "fitnah Dajjal"? Jawabannya sangat sederhana. Sebab kejadian apapun di alam semesta ini, dunia ini, SEMUANYA TANPA TERKECUALI, merupakan kehendak Allah. Terus? Ya, berarti termasuk "fitnah Dajjal" ini, apapun itu definisinya. Dengan kata lain, kita harus berhenti memikirkan hal itu sebagai sesuatu yang harus “dihindari” atau “ditakuti” saja tanpa pemahaman yang cukup, dan mulai melihatnya sebagai sesuatu yang harus dipahami kemudian “dilawan”, “dihadapi”, dan “dijawab”, karena “fitnah Dajjal” itu tidak lain juga bagian dari ujian kehidupan dan/atau hukuman atas kesalahan yang Anda lakukan di masa lalu. Inilah alasannya mengapa penting mengetahui posisi Anda sekarang. Jika Anda adalah seorang yang “buta total”, berarti ujian “fitnah Dajjal” ini juga bisa merupakan sebuah kesempatan bagi Anda untuk membuka mata Anda. Anda pasti akan terbawa arus kebohongan yang diucapkan oleh para “manusia bermata satu ini”, pasti. Wajarlah! Anda kan buta total dan penuh keraguan tidak tahu mau ke mana. Dalam kondisi tersebut, tiba-tiba di sebelah Anda ada seseorang yang dengan penuh keyakinan mendeskripsikan segala hal yang ada di sekitar Anda. Dia mengerti keraguan dan ketidakmampuan Anda untuk melihat. Sekarang dengan lantangnya dia mau mengarahkan Anda ke mana harus berjalan, dengan penuh kepercayaan diri, dengan penuh keyakinan. Wajar jika Anda percaya. Anda akan berpikir, “Wow, kok dia bisa pede banget ya? Ah! Pasti karena bener ucapannya!” Sangat wajar! Tetapi juga sangat menyedihkan. Mengapa hal ini merupakan kesempatan untuk membuka mata? Karena Anda dibohongi, Anda akan memiliki kesempatan untuk merasakan sendiri satu persatu, dengan segala indra yang Anda miliki, betapa segala hal yang dikatakannya adalah kebohongan. Kondisi ini kalau kita lihat sebatas urusan manusia aja, merupakan sebuah ketidakadilan, sebuah kejahatan, sebuah penipuan. Betul! Tetapi kalau dilihat dari perspektif YME, merupakan dorongan bagi Anda untuk membuka mata Anda. Sebuah paksaan supaya Anda jangan malas aja ngarepin orang lain menuntun Anda untuk berjalan. Anda, kalau mau maju, harus membuka mata Anda sendiri, dan berjalanlah sendiri ke depan. Meskipun harus merangkak dulu, meskipun harus tertatih-tatih dan berulang kali jatuh, meskipun tidak bisa langsung berlari dengan cepat. Itulah salah satu perspektif mengapa “fitnah Dajjal” ini merupakan sebuah “kesempatan” bagi manusia yang “buta total”. Dan jangan lupa juga, bahwa segala kerugian yang Anda alami selama dibohongi tersebut juga bisa (sekaligus) merupakan hukuman atas perbuatan zalim yang Anda lakukan di masa lalu. Jadi, manfaatnya bagi Anda adalah sebagai cicilan supaya tidak perlu mengalaminya lagi di masa depan, jika Anda mampu ikhlas tentunya. Hal ini cuma Anda sendiri yang tahu.

Kedua, jika Anda merupakan “manusia bermata satu”, yang udah mampu membedakan hal bermanfaat dan tidak, tetapi tidak mampu ataupun mau untuk melaksanakan yang lebih bermanfaat, “fitnah Dajjal” merupakan sebuah ujian (pilihan) tetapi juga bisa sekaligus sebagai sebuah hukuman. Anda berada di tengah-tengah. Pilihannya sekarang adalah apakah Anda akan memanfaatkan posisi Anda sebagai “manusia bermata satu”, apakah Anda akan bergeser menjadi “manusia buta total”, atau sebaliknya Anda membuka mata Anda yang satu lagi dan berubah menjadi “manusia yang kedua matanya terbuka”, dan mulai melaksanakan dengan sungguh-sungguh, hal yang Anda ketahui bermanfaat tetapi belum pernah mampu Anda lakukan, entah karena alasan apapun. Jika Anda memilih untuk tetap “bermata satu”, ya Anda akan menjadi “bahan ujian” bagi manusia yang lain. Menjadi tokoh antagonis. Menjadi tokoh antagonis kan belum tentu buruk? Iya. Anda bisa mendapatkan 3K dengan jumlah yang cukup banyak, tetapi semua itu akan menjadi utang di hadapan YME. Karena semua perbuatan Anda, irodat Anda dalam kehidupan ini, kemungkinan besar tidak ada satupun yang berdasarkan fitrah, semua karena nafsu. Kemudian karena Anda juga kemungkinan besar banyak berbuat zalim, meskipun Anda tidak melihatnya sebagai perbuatan zalim, semua perbuatan tersebut akan Anda alami kembali suatu saat nanti, tetapi sebagai korbannya, bukan pelakunya. Jadi untung 3K dalam kehidupan saat ini, tetapi rugi pertanggungjawaban di hadapan Allah dan karma buruk di masa depan. Silakan aja kalau mau dipilih. Jika Anda memilih untuk menjadi “buta total”, ya Anda mungkin pertanggungjawabannya nggak akan sebesar jika Anda memilih untuk tetap “bermata satu”. Tetapi Anda tetap aja nggak akan naik kelas dalam kehidupan ini. Anda juga akan mendapatkan “kesempatan” untuk membuka kedua mata Anda, seperti yang udah kita bahas di atas tadi tentang manusia yang “buta total”, lewat manusia lain yang memilih untuk tetap “bermata satu”. Jika Anda memilih untuk membuka “kedua mata” Anda. Nah, ini yang spesial. Anda akan diberikan ujian dan hukuman sekaligus secara beruntun. Ujian untuk memastikan bahwa keputusan Anda untuk “membuka kedua mata” itu benar-benar murni niatnya. Sedangkan hukuman untuk mencicil pertanggungjawaban atas segala perbuatan zalim Anda di masa lalu. Kalau Anda mampu lulus ujiannya, dan ikhlas hukumannya. Bagus! Untung besar secara rohani meskipun rugi besar secara jasmani, sebagaimana dideskripsikan dalam berbagai topik di Channel ini mengenai kodrat dan irodat. Kalau Anda nggak mampu lulus ujiannya, tapi mampu ikhlas hukumannya? Yah! Minimal bisa mencicil karmanya. Tetapi kalau Anda nggak mampu lulus ujiannya, dan nggak mampu ikhlas hukumannya. Berarti Anda rugi besar, baik jasmani ataupun rohani. Yah, sekali lagi, hal ini tergantung individu masing-masing tentunya. Semua deskripsi skenario di atas cuma penyederhanaan. Kesimpulannya, “fitnah Dajjal” bagi manusia yang juga “bermata satu” adalah pilihan bagi mereka apakah mau ikut bergabung dengan manusia “bermata satu” lainnya, atau sekalian “membutakan kedua matanya”, atau “membuka kedua matanya”.

Ketiga, apa arti “fitnah Dajjal” bagi manusia yang udah terbuka “kedua mata hatinya”? Ujian sebagian besar. “Manusia bermata satu” akan menjadi tokoh antagonis Anda dalam kehidupan ini kemungkinan besar. Tetapi jangan sampai lupa, bahwa mengalahkan mereka bukanlah sekedar urusan jasmani aja, bukan sekedar membuka kebohongannya, bukan sekedar menolong manusia yang “buta kedua matanya”, tetapi Anda juga harus lakukan semua itu dengan niat yang murni, dengan tujuan mencari ridho dari YME. Dan untuk mencapai hal ini, akan ada banyak sekali ujian-ujian untuk menguji Anda. Dalam menghadapi ujian ini, Anda otomatis akan tumbuh sebagai seorang manusia. Fitrah Anda akan semakin pintar menghadapi berbagai macam tipuan nafsu, sebab semua itu ditunjukkan di depan mata Anda, ditunjukkan dengan jelas dari tindakan sang “mata satu” dalam menipu manusia yang “buta total”. Jadi, Anda sebenarnya secara gratis mendapatkan pelajaran dari situ. Sebuah kesempatan untuk mempelajari tindak-tanduk nafsu, sehingga Anda bisa mengenalinya dalam diri Anda sendiri. Supaya Anda bisa mulai merumuskan serum atau obat atau vaksin, supaya Anda tidak kena tipuan nafsu yang sama. Tentu saja hal ini tidak semudah membalikkan sebelah tangan. Anda akan merasakan frustasi, stres, kesedihan, dan semacamnya. Terutama jika Anda melihat betapa kasihannya orang yang buta tersebut ditipu dengan mudahnya oleh manusia bermata satu. Terutama jika Anda mengerti betapa besar pertanggungjawaban mereka nantinya. Terutama jika Anda tahu, tidak ada hal yang bisa Anda lakukan untuk menolong mereka. Tetapi benarkah seperti itu? Benarkah tidak ada yang bisa Anda lakukan? Ada sih, sebenarnya. Secercah harapan untuk melawan ketidakadilan tersebut. Tetapi masalahnya adalah, sebelum Anda mampu melakukannya, Anda harus meningkatkan terlebih dahulu level keimanan Anda. Anda harus mendapatkan bimbingan MM terlebih dahulu, Lummah dan Syariat lebih spesifiknya. Anda harus mencapai Dunia Baru terlebih dahulu. Anda harus menjadi manusia Dikehendaki terlebih dahulu. Mengapa? Sebab hanya dengan cara itulah, Allah akan menurunkan berkah-Nya LEWAT Anda. Dalam konteks ini, “pertolongan” Allah itu ibarat aliran listrik atau segala sumber energi apapun itu bentuknya. Dan Anda, sebagai lewatan-Nya, adalah berbagai macam alat yang berguna yang membutuhkan energi tersebut. Katakanlah Anda adalah sebuah mesin pemotong rumput. Sebelum Anda bisa menjadi lewatan untuk memotong rumput, Anda harus memastikan bahwa ketika energi tersebut tersalurkan lewat Anda, pertolongan tersebut dilewatkan melalui Anda, Anda tidak akan meledak gara-gara overcharging. Overcharging ini adalah perumpamaan ketika sebuah pertolongan diberikan melalui manusia yang masih Menghendaki. Kenapa emangnya? Ya, rumputnya kepotong, beres. Bermanfaat. Tetapi Anda sebagai mesinnya malah meledak. Anda sebagai manusia lewatan-Nya malah celaka, karena pasti pertolongan bagi orang lain tersebut nggak mampu Anda lakukan dengan kemurnian niat yang cukup. Anda pasti lebih besar pengaruh nafsunya daripada fitrahnya dalam menolong manusia lain. Secara jasmani terlihat dengan nyata, sebuah perbuatan mulia, tetapi secara rohani Anda nggak mendapatkan nilai apa-apa di hadapan YME. Sangat merugi, baik secara jasmani maupun rohani. Dan jika Anda tidak mampu memahami ayat tersirat ini, kemungkinan besar Anda malah akan bergeser menjadi "manusia bermata satu" justru. Kurang lebih begitu penjelasan yang bisa saya berikan. Nah, sekarang saya mau bertanya. Berbekal dengan pemahaman yang saya jabarkan di atas, bagaimana Anda akan menjawab pertanyaan Anda tersebut? Saya yakin Anda bisa menemukan sendiri jawabannya. Tetapi jika masih bingung, silakan dilanjutkan lagi diskusi kita di sini. Silakan disampaikan lagi apa yang kurang dipahami. Terima kasih.

 

Alhamdulillah Terimakasih atas pencerahannya ini yang sekarang saya alamj. Semoga Alloh memberikan ijin & ridhinya dalam mencari petunjuk nya Amin ya rabbal alamin