FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Cinta Sejati, Pengorbanan

Salam mas Arli dan ibu Ririn, semoga sehat selalu. saya ingin berbagi kisah sekaligus bertanya nih. begini ceritanya, saya suka terhadap seorang wanita dan memendam rasa suka cukup lama, mungkin sekitar 2 tahun sebelum akhirnya saya nyatakan perasaan suka saya kepadanya. sebelumnya saya coba untuk melupakan dia, mencoba mengikhlaskannya tanpa bertindak, namun cara tersebut cukup mengganjal dihati sampai akhirnya saya nyatakan kepadanya untuk "Ta'aruf / Berkenalan" agar jika ada hal yg tidak bisa dimaklumi, bisa berpisah dengan baik-baik. Setelah saya nyatakan niat dan maksud saya, baru sepatah kata saya omongkan, dia langsung menyatakan Tidak Bisa dan malah menjauhi saya. Hal ini membuat saya menjadi bertanya-tanya dan berusaha mencari sebab penolakan tersebut hingga akhirnya saya tanya kepada teman dekatnya. Saya sedikit dikejutkan ketika teman dekatnya mengatakan bahwa wanita yg saya sukai ternyata juga sedang mencari seorang pendamping, namun dia tidak suka dengan saya, entah karena alasan apa (mungkin karena sikap saya dimasa lalu). Sejak saya mengetahui hal tersebut, saya sedikit demi sedikit bisa melupakan dia dan dapat mengambil beberapa pelajaran. Dalam sikap saya, mungkin saya dapat menyembunyikan rasa kecewa saya dengan beberapa senyuman. Namun disisi lain hati ini selalu menjerit dan seperti perang batin. Karena dia satu kantor dengan saya, maka perang batin ini hampir setiap hari terjadi di hati saya. 1. Hati saya terkadang menjadi semakin sensitif ketika dia dekat dengan pria lain, namun jauh dengan saya. 2. Hari ini, besok dan lusa hati saya bisa tenang dan tidak memikirkan dia, tapi minggu/bulan depan kepikiran dan kecewa lagi. Hal ini menjadikan fikiran saya tidak fokus dalam mengerjakan sesuatu. Berbekal pengetahuan yang saya peroleh dari buku2 ibu Ririn dan Video di Channel ini, khususnya "Rasa Aku terhadap Kemampuan Pribadi" , "TFY "Kasih Sayang" dan KRM9. Saya jadi tahu kesalahan2 saya dimasa lalu. Tapi jika boleh minta saran, adakah cara untuk Ikhlas yang sesungguhnya agar tidak menjadi Bibit Penyakit yg membuat saya jatuh pada perbuatan dzalim di masa depan? Karena waktu saya menjadi sia-sia hanya untuk memikirkan seseorang, tapi disisi lain jika saya isi kegiatan saya dengan hal lain justru tidak bisa maksimal dan tetap saja menjadi beban pikiran. hehe.. maaf kalo terdengar Klise dan Sepele Terima Kasih.

 

Salam. Terima kasih atas ceritanya. Jawaban dari pertanyaan Anda, adakah cara untuk ikhlas yang sesungguhnya, merupakan sebuah perjuangan yang panjang. Tidak ada jalan pintas. Anda harus mengenali, memahami, dan mengalahkan setiap pikiran, niat, dan tindakan yang telah terkotori nafsu di sepanjang hidup Anda secara umum, atau mungkin yang berhubungan secara langsung dengan cerita Anda di atas secara spesifik, sehingga ketika di masa depan ujian yang sama terulang, Anda bisa melaluinya dengan nilai keikhlasan yang mencukupi. Jika pertanyaan Anda adalah bagaimana mengikhlaskan penolakan tersebut, jawabannya masih tetap sama. Anda harus menggali dari nafsu yang manakah perasaan tersebut. Didaftar satu per satu. Misalnya, jika Anda merasa memiliki wanita tersebut, mengapa? Apa yang menjadi dasar pemikiran tersebut? Apa yang telah dijadikan nafsu rasa aku Anda sebagai basis untuk memiliki keyakinan seperti itu? Contoh lain. Jika Anda merasa harga diri Anda terlukai akibat penolakan tersebut, mengapa? Mengapa penilaian wanita tersebut merupakan sesuatu yang Anda hargai? Apa kualitas dia yang membuat Anda ingin mengukur harga diri Anda berdasarkan penilaiannya? Ini cuma contoh, dan langkah sederhana yang bisa dilakukan. Di luar itu, jangan lupakan juga kemungkinan bahwa Anda masih berada di bawah pengaruh roh-roh nenek moyang Anda, atau nenek moyang wanita tersebut, bisa banyak kemungkinannya. Pengaruh semacam ini akan melipatgandakan obsesi Anda, melipatgandakan nafsu Anda yang muncul terhadap apapun, termasuk wanita tersebut. Jadi, saran saya adalah juga melaksanakan Zikir dan Doa yang udah dibagikan secara gratis di website ayattersirat.com setiap hari. Akhir kata, sekali lagi saya menekankan bahwa ini adalah sebuah perjuangan, bagian dari jalan panjang melalui kehidupan. Jika Anda belum mampu melepaskan perasaan atau obsesi tersebut, masih memiliki rasa sakit hati, berarti penggalian nafsu di dalam hati Anda belum usai. Harus terus ditelusuri. Hanya dengan menyelesaikan permasalahan atau ujian inilah, Anda baru akan bisa menghindari permasalahan yang sama di masa depan. Sebelum itu usai, cuma masalah waktu sebelum Anda mengalami problem yang serupa, meskipun lewatan, cara, atau manusianya berbeda, misalnya wanita lain lagi, atau jika misalnya wanita tersebut berubah pikiran pada suatu titik, Anda akan ingin membalas dendam, dan semacamnya.

 

Terima kasih jawabannya, setelah saya telusuri dan saya pikir2 kembali kesalahan saya, memang benar selama ini dalam tindakan saya lebih mengedepankan Nafsu yang saya pikir itu adalah sebuah pengorbanan dan perasaan yang wajar dan lumrah. Niat karena Manusia sudah tertanam begitu dalam tanpa saya sadari. Sekali lagi terima kasih mas Arli dan ibu Ririn. Salam