FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Niat untuk enak di masa depan, apakah murni?

Salam mas arli dan bu ririn. Saya mau tanya, karena pertanyaan ini tiba2 terlintas di benak saya. Jika kita ingin berbuat jalan yg lurus atau berbuat benar di kehidupan kita dengan niat supaya kehidupan kita selanjutnya lebih enak, contoh supya antrian rengkarnasi lebih cepat, tidak terkena karma buruk , hidup enak karena terlahir dr org tua kaya dll. Jadi sekarang berbuat benar karena niat hnya Allah tapi ada buntut nya yaitu utk mencari surga Allah atau keridoan Allah agar kehidupan kita selanjutnya nikmat. Bolehkah berfikiran demikian ?

 

Yah, Mas. Ya, nggak tahulah saya. Kembali lagi ke zaman kebaikan kita, kalau Anda ngarepin saya buat bilang mana yang boleh dan mana yang nggak boleh. Itu kan pertanyaan buat Anda sendiri, dan Anda sendiri yang harus jawab dalam kehidupan ini, lewat ujian-ujian kehidupan yang pasti bakalan datang dalam usaha Anda tersebut, ketika Anda menjalankan niat tersebut. Dengan kata lain, pertanyaan Anda bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab orang lain, sebab ujian-ujian yang akan Anda hadapi juga cuma Anda yang bakalan tahu detilnya. Apakah niat Anda tersebut karena nafsu atau fitrah juga Anda sendiri yang tahu. Itu singkatnya. Kalau penjelasan panjangnya, pertanyaan Anda itu sebuah... apa ya? Paradoks? Ironi? Dalam dua kalimat ada pernyataan "Jadi sekarang berbuat benar karena niat hanya Allah" tetapi juga sekaligus ada "tapi ada buntutnya, yaitu mencari surga Allah dan keridoan Allah supaya kehidupan selanjutnya nikmat. Bolehkah berpikiran demikian". Apakah Anda tidak bisa melihat sesuatu yang aneh di situ? Tahukah Anda pengertian dari "niat karena Allah"? Penjelasannya sangat panjang dan sudah dibahas di dalam berbagai video di sini. Tetapi singkatnya itu adalah "kendali fitrah", jadi kalau fitrah Anda mengendalikan tindakan Anda, hati Anda, minimal 75%, maka bisa dianggap sudah tercapai niat karena Allah tersebut. Nah, pertanyaan Anda itu saya sebut sebagai ironi, karena di saat bersamaan Anda bilang "niat karena Allah", Anda minta pendapat saya, seorang manusia, untuk menilai apakah pikiran Anda itu boleh atau tidak. Ironis kan? Ya, begitulah tipuan nafsu yang sangat halus. Sangat sangat halus. Kesimpulannya, Mas Haris, memang banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang memang nggak bakal bisa ditemukan jawabannya lewat percakapan antara satu manusia dengan yang lain. Yaitu, pertanyaan-pertanyaan yang memang murni urusan seorang manusia dengan Sang Maha Pencipta, pertanyaan-pertanyaan yang dijawab melalui rangkaian tindakan REAL dalam ujian kehidupan, dan hanya bisa dinilai oleh Yang Maha Segala. Sebab begitu pertanyaan tersebut keluar dari mulut Anda dan berinteraksi dengan sesama manusia, langsung terbiaskan nafsu sehingga tidak lagi murni "karena Allah semata". Justru itulah gunanya ada Malaikat Muqorrobin yang letaknya di dalam rohani manusia sendiri. Jadi, silakan berkonsultasi dengan MM Anda sendiri apa jawaban dari pertanyaan Anda, secara spesifik dalam kehidupan Anda. Kurang lebih begitu. Semoga cukup jelas.

 

sudah cukup jelas mas arli. Terimakasih atas jawabannya. Hatur nuhun