ย 

FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Sudahkah saya di dunia baru?

๐Ÿค” kesimpulan nya..apakah manusia yg mau bertaubat, instrospeksi diri, dan berserah diri kepada Allah..itu sdh berada di dunia baru..?? Mohon penjelasan nya..karena ini terjadi pada sy pribadi, sejak Allah membuka kan pintu hidayah-Nya..sy berhijrah diri dr kehidupan masa lalu sy yg kurang baik. Dan sekarang sy merasa lebih damai ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

ย 

Yang bisa menjawab pertanyaan ini hanyalah Anda sendiri. Bukan sesama manusia, siapapun dia. Berikut ini merupakan beberapa perenungan yang mungkin bisa membantu Anda dalam mencari jawabannya: 1. Jika sebelumnya Anda memiliki kebiasaan buruk kemudian sekarang berhenti, belum tentu Anda sudah berhasil menjadi manusia yang benar di hadapan Allah. Bagaimana mungkin? Karena bisa saja Anda baru mencapai tahapan baik di hadapan sesama manusia. Apa perbedaan antara baik dengan benar, berkenaan dengan kebiasaan Anda tersebut? Ya, bakal ada ujian kehidupan yang akan mengetes Anda, apakah niat Anda mengubah kebiasaan tersebut sudah benar-benar bisa diniatkan karena Allah semata. Bukan karena supaya dipuji, bukan supaya bisa merasa superior dibandingkan teman-teman Anda yang belum mengubah kebiasaan tersebut, bukan karena kebiasaan tersebut menghalangi karir, dan bukan karena alasan-alasan apapun yang dipengaruhi oleh nafsu. 2. Jadi, Anda silakan merenungkan ke belakang, dari titik Anda berubah hingga detik ini, ujian-ujian apa sajakah yang sudah Allah berikan untuk melihat kemurnian niat Anda tersebut? Apakah Anda sekarang merasa suci dibandingkan teman-teman Anda yang belum hijrah? Memiliki dorongan untuk mencerca mereka dan memaksa mereka berubah? Jika iya, kemungkinan niat Anda belum cukup murni. Apakah Anda memiliki dorongan untuk mendapatkan validasi dari orang lain, termasuk dari saya atau Bu Ririn di sini, bahwa diri Anda sudah berubah? Jika iya, kemungkinan Anda belum benar-benar berubah. Nanti begitu ujian tiba, bisa jadi Anda malah menjadi lebih parah dari sebelumnya. 3. Dunia baru itu susah dicapainya. Sebelum mencapainya, Anda sudah harus mendapatkan MM Lummah. Setelah itu mendapatkan MM Syariat. Setelah itu setiap ujian kehidupan harus dijawab dengan nilai keikhlasan minimal 7.5 secara beruntun. Prosesnya panjang dan setiap individu butuh waktu yang berbeda-beda untuk mencapainya. Kesimpulannya, ya silakan direnungkan sendiri bermodalkan ilmu kebenaran, berbekal pengetahuan akan diri Anda sendiri, nafsu Anda sendiri. Ada satu indikasi yang saya tahu mengenai hal ini: Jika Anda belum bisa jujur kepada diri Anda sendiri, jujur dengan sejujur-jujurnya akan segala kekurangan dan kelebihan Anda sendiri, masih mengharapkan orang lain, hampir bisa dipastikan Anda belum mencapai dunia baru.

ย 

terimakasih..insyaallah sy berhijrah bukan karena ingin mendapatkan pujian dr manusia tp murni semata2 karena Allah, mk dr itu sy belajar mencari jawaban atas sesuatu yg belum sy pahami , sy bertanya kepada anda karena sy mengikuti chanel anda ..maaf jika pertanyaan sy merepotkan anda..๐Ÿ˜Œ๐Ÿ™ salam

ย 

Salam, ikut nanya disini ya mengenai ini... "Ada satu indikasi yang saya tahu mengenai hal ini: Jika Anda belum bisa jujur kepada diri Anda sendiri, jujur dengan sejujur-jujurnya akan segala kekurangan dan kelebihan Anda sendiri, masih mengharapkan orang lain, hampir bisa dipastikan Anda belum mencapai dunia baru." Boleh di terangkan lebih dalam maksudnya dengan bagaimana jujur terhadap diri sendiri?

ย 

Jujur di sini maksudnya adalah kesadaran bahwa dalam diri kita itu ada nafsu dan ada fitrah, ada pikiran jelek ada pikiran bagus, ada niat bersih ada niat kotor. Salah satu kehebatan nafsu adalah meyakinkan hati manusia bahwa ia bersih, tanpa ada kejelekan sama sekali. Manusia yang sudah termakan tipuan ini cenderung memfilter alias menyaring semua informasi yang jelek-jelek dari pikirannya. Sayangnya ketika disaring seperti itu, bukan berarti nafsunya hilang, cuma manusianya jadi nggak sensitif akan keberadaan bisikan nafsu. Kasarnya Ibarat anak kecil yang menutup mata, menutup hidung, dan menutup telinga berharap kejelekan akan hilang dari hadapannya. Jujur kepada diri sendiri, itu adalah mengakui bahwa kita punya niat jelek, punya pikiran buruk, punya kecenderungan mengambil hak-hak prerogatif Allah, tetapi bukan berarti kita harus mengikuti bisikan atau niat tersebut. Jujur kepada diri sendiri adalah menerima kenyataan bahwa diri ini tidak akan pernah sempurna, tetapi tetap terus berjalan satu langkah demi satu langkah ke depan. Jujur kepada diri sendiri adalah mengikhlaskan bahwa segala bentuk kejelekan tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dihilangkan, tetapi bisa dikendalikan. Mengapa? Agar ketika ujian tiba, kita tetap mengenali mana yang bisikan fitrah dan mana yang bisikan nafsu, tidak ditusuk diam-diam dari belakang oleh bisikan nafsu yang sudah kita abaikan tadi. Seperti dalam kasus di atas, jika kita sudah berhasil berhenti dari melakukan kebiasaan buruk, akan lebih aman bagi diri kita untuk selalu waspada akan kemurnian niat kita tersebut, tetap menjaga diri akan kemungkinan bahwa niat kita untuk berubah itu belum sempurna, belum teruji, daripada sebaliknya. Supaya pada saat ujian benar-benar tiba, lebih besar kemungkinannya bagi kita untuk lulus. Sebab ujian kehidupan itu memang baru benar-benar akan selesai setelah kita mati.

ย