FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Shalawat kepada Muhammad, untuk Siapa?

Salam Bu Ririn/Mas Arly.. sy mau bertanya sbagai seorang Muslim,, mengenai 'Sholawat' yg kita ucapkan tiap waktu kepada Nabiyyullah Muhammad SAW.. apakah ditujukan kepada Beliau ataukah sejatinya utk Muhammad yg terdiri dari 5 unsur itu.. mohon pencerahan. terima kasih.. Salam.

 

Salam. Ah, ini topik yang sangat fundamental, mengenai Doa. Saya akan asumsikan Anda belum pernah membaca buku "Membaca Ayat-ayat Allah yang Tersirat 2". Salah satu Bab dalam buku tersebut membahas tentang Doa. Saya akan coba merangkai perenungan yang singkat. Semoga dapat memicu Anda untuk berkomunikasi sendiri dengan MM. 1. Siapakah sebenarnya yang membutuhkan Doa? Apakah seseorang atau sesuatu yang kita doakan ataukah diri kita sendiri yang mendoakan? Nah, pertanyaan ini tolong diterapkan dalam topik yang Anda sampaikan di atas. "Shalawat" itu, yang membutuhkan adalah diri kita atau sosok "Muhammad" yang disebutkan di dalam doa tersebut? Untuk mendapatkan masukan mengenai jawaban atas pertanyaan ini, silakan menonton KRM01: Pengkultusan. 2. Siapakah yang butuh untuk memahami arti atau tujuan dari Doa? Apakah Allah Dzat Yang Maha Mengetahui ataukah diri manusia yang berdoa? Anda bertanya kepada saya, shalawat yang Anda ucapkan itu tujuannya ke mana? Nah lho... bukankah seharusnya Anda yang tahu? Kan Anda yang berdoa? Nah, ilustrasi di atas merupakan sebuah renungan sebenarnya. Karena jika Anda bertanya seperti itu, seolah mengindikasikan bahwa selama ini, Anda berpikiran bahwa Doa itu hanyalah semacam mantra yang perlu diucapkan berulang-ulang oleh lidah Anda, dan nggak penting bagi Anda untuk mengetahui dan memahami sendiri apa sih yang terucap oleh mulut dan lidah Anda tersebut. Terus apa masalahnya? Masalahnya adalah kalau memang benar begitu, Anda bakalan susah untuk mendapatkan nilai kemurnian niat 7.5. Kalau pake pola semacam ini, asal ngomong aja, perbuatan Anda untuk mengucapkan doa dalam bentuk apapun, termasuk "Shalawat" ini bakalan susah diterima sebagai amal ibadah di hadapan Allah. Sebab Anda memiliki pemahaman bahwa yang butuh untuk paham isi Doa adalah Allah yang jelas-jelas Maha Mengetahui, bukan diri Anda sendiri justru. Kasarnya, Allah Anda anggap sebagai komputer yang bodoh, yang cuma bisa memahami kode-kode tertentu saja, bahasa-bahasa tertentu saja. Yang seolah nggak bisa memahami apa yang paling dibutuhkan oleh siapapun itu yang kita doakan. Salah besar! Manusia itu diperintahkan untuk berdoa, bukan karena Allah nggak tahu apa yang manusia mau atau butuhkan, melainkan untuk memberikan kesempatan bagi fitrah manusia untuk bisa keluar dan mengendalikan hatinya. Manusia disuruh berdoa itu agar raga, pikir, akal, dan rasanya yang terlanjur terkendali nafsu berhenti sejenak, agar momentumnya berhenti, memberikan kesempatan bagi fitrah untuk melakukan pemberontakan terhadap kendali nafsu. Untuk sadar, bahwa apapun itu yang manusia sedang hadapi, merupakan pesan dari Yang Maha Segala, ada ayat-ayat Tersirat yang terkandung di dalamnya, ada ujian yang harus manusia jawab. Itu sih salah satu hakikatnya. Kemudian doa itu juga hakikatnya merupakan ujian. Tetapi itu pembahasannya panjang lagi. Kapan-kapan aja dibahasnya, oh, atau baca aja di bukunya. Intinya adalah, saya ingin menyampaikan bahwa pertanyaan tersebut harus Anda jawab sendiri, bukan saya yang tahu jawabannya. Kalaupun saya sebutkan di sini, nggak serta merta menjadikan hal itu kebenaran yang absolut buat Anda, tetapi hanya merupakan kebenaran buat diri saya sendiri. Karena yang terpenting dari doa bukanlah "apa kata orang" mengenai arti doa tersebut, melainkan "apa pemahaman kamu sendiri" ketika mengucapkannya. Pola semacam ini justru yang lebih aman dari tipuan nafsu rasa aku, nafsu rasa suci, dan nafsu rasa minta puji dan memberikan kesempatan bagi diri kita untuk benar-benar terhubung dengan Sang Maha Pencipta. Saya harap penjelasan saya ini sudah cukup jelas. Semoga bermanfaat dan terima kasih atas pertanyaannya.

 

terima kasih atas penjelasannya mas Arly.. Salam