FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Mengapa tidak terjadi pada pemuka agama lainnya?

Knp hal2 yg terjadi sama ibu kok tidak terjadi pada pemuka2 agama... Supaya ilmu kebenaran bisa cepat tersebar dan bisa di amalkan umat manusia.... terima kasih

 

Halo. Terima kasih atas pertanyaannya. Saya Arli. Jawaban yang akan saya jabarkan hanya merupakan pertimbangan, bukan sesuatu yang absolut. Jadi tolong digunakan lagi akal, pikir, dan rasa yang dikendalikan fitrah dalam membaca dan memahaminya. Mengapa begitu, Anda tanya? 1. Mana saya tahu. Itu kehendak Allah. Ini jawaban paling dasarnya. Tetapi kalau jawaban ini belum cukup memuaskan, silakan dilanjutkan ke jawaban berikutnya. 2. Kalau Anda sudah membaca buku-bukunya, sebenarnya pelajaran kehidupan yang dihadapi Bu Ririn bukanlah hal yang unik. Apa artinya? Artinya setiap individu manusia juga mengalaminya meskipun dalam bentuk yang berbeda. Kalau Anda melihat ke belakang, ke panjangnya sejarah umat manusia baik yang tercatat maupun yang sudah hilang ditelan waktu, sehingga hanya menyisakan legenda dan mitos, Anda akan menemukan pola yang sama sebenarnya. Masih banyak orang-orang yang mengalami penderitaan ataupun kesengsaraan yang jauh lebih berat daripada Bu Ririn. Pertanyaannya adalah apa yang membedakan dengan sebelumnya? Perbedaannya adalah lulus atau tidaknya manusia dalam menghadapi ujian kehidupan tersebut, penderitaan, kesengsaraan, ataupun kesenangan tersebut, dengan nilai keikhlasan minimal 7,5. Mampukah manusianya mengambil ilmu maksud dan tujuan Allah dalam memberikan ujian kehidupan kepadanya, bukan sekedar mengambil hikmah atau bahkan justru memfitnah YME. Mampukah manusianya membaca ayat-ayat Allah yang tersirat yang terkandung di dalamnya. Dengan kata lain, jika Anda bertanya mengapa tidak terjadi kepada mereka, pertanyaan yang lebih tepat adalah di titik mana mereka semua gagal sehingga pencapaian ilmunya tidak setinggi Ibu Ririn Atika? 3. Keinginan Anda agar Ilmu Kebenaran cepat-cepat bisa diamalkan umat manusia di seluruh dunia memang terdengar baik, atau mulia. Tetapi sangat besar kemungkinannya sudah tercemari nafsu. Bagaimana mungkin? Karena Anda tidak menyadari bahwa beban satu individu manusia untuk bisa mengalahkan nafsunya sendiri saja, itu sudah sangat berat. Anda tidak menyadari bahwa Anda tidaklah memiliki waktu untuk mengkhawatirkan orang lain sama sekali karena ujian yang sedang menanti diri Anda saat ini dan di masa depan sudah menumpuk sangat tinggi. Kalau hati Anda sudah terkendali fitrah, dan sudah berada di bawah bimbingan Malaikat Muqorrobin, yang akan Anda khawatirkan sekarang adalah bagaimana caranya diri Anda sendiri bisa cepat-cepat lari ke dunia baru. Bagaimana caranya diri Anda sendiri bisa lulus ujian kehidupan dengan nilai keikhlasan yang paling tinggi yang bisa Anda capai. Dengan kata lain, ketika melihat orang lain yang tidak atau belum mampu memahami atau bahkan sekedar mengetahui ilmu kebenaran, yang Anda pikirkan bukanlah bagaimana caranya mereka supaya bisa tahu atau mengerti, tetapi bagaimana situasi ini bisa Anda manfaatkan buat diri Anda sendiri secara pribadi, agar bisa meningkatkan keimanan Anda sendiri di hadapan Allah. Apa bedanya? Beda banget. Yang satu sudah mulai tercemari nafsu rasa suci sementara yang lain murni pandangan fitrah yang mengutamakan kedudukan di hadapan Allah daripada di hadapan sesama manusia. Dalam perbuatan atau tindakan fisiknya secara konkrit, meskipun sama-sama berusaha menjelaskan ilmu kebenaran kepada mereka, hasilnya akan menjadi sangat berbeda. Yang pertama tidak akan lulus ketika mendapatkan ujian dari orang lain tersebut, misalnya Anda justru dicerca karena pemahaman Anda berbeda dengan mereka. Sementara yang kedua memiliki peluang lulus lebih tinggi, karena Anda akan berhati-hati dalam setiap tutur kata yang keluar dari mulut Anda, sehingga tidak ada satu pun yang ternodai nafsu rasa aku, nafsu rasa suci, dan nafsu rasa minta puji. Sehingga tidak peduli apakah mereka menjadi mengerti ataupun tidak akhirnya, nilai keikhlasan Anda sudah meningkat justru dalam prosesnya. Kesimpulannya: Saya sangat menyarankan Anda mengevaluasi lagi seluruh pengalaman hidup Anda dari lahir hingga titik ini, dan tentukan sendiri mana yang kira-kira sudah lulus dengan nilai mencukupi dan mana yang kurang, kemudian mempersiapkan diri menghadapi ujian berikutnya, atau remedial dari ujian sebelumnya, daripada mengkhawatirkan orang lain. -arli

 

Sangat puas dgn jawaban bang arli.... terimalah kasih banyak....bang. Memang benar ilmu kebenaran ini perjalanan nya harus secara fitrah. Saya sangat setuju.... Tidak memandang suku dan agama... Yg jelas ilmu kebenaran ini sangat penting bagi setiap individu untuk memahaminya....trms. Dan salam santun selalu buat tim Ardilla book.