FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Nafsu Rasa Suci

Nafsu rasa suci mendorong manusia untuk melupakan kodratnya sebagai manusia, yaitu kurang, salah, lupa sehingga dalam setiap langkah peningkatan di dalam kehidupannya, ia langsung merasa paling segalanya: paling hebat, paling kuat, paling pandai, atau paling suci sementara orang lain yang gagal, lebih rendah. Kecenderungan inilah yang pada akhirnya mengantarkan manusia kepada perbuatan yang tidak mulia.

Perasaan superior ini tentunya tidak selalu muncul dalam kadar yang ekstrim, seringkali justru tumbuh sedikit demi sedikit seiring dengan kehidupan yang dialami seorang manusia.

Mungkin hari ini ia cukup merasa lebih dari temannya, besok dari saudaranya, minggu depan dari seseorang di media sosial, dan begitu seterusnya sehingga pada akhirnya ia lupa bahwa jika dirinya mengalami kondisi yang sama dengan orang-orang yang dicercanya tersebut semenjak lahir hingga titik itu, belum tentu ia bisa melaluinya dengan lebih baik.

Nafsu rasa suci menghalangi manusia untuk terus meningkatkan kualitasnya, terutama kualitasnya di hadapan Yang Maha Kuasa. Dalam kehidupan, setiap kali dihadapkan pada situasi untuk berkaca, ia selalu menyalahkan kacanya daripada berusaha memperbaiki dirinya. Sebab dia sudah terlanjur merasa paling segalanya.

Nafsu rasa suci membuat manusia lupa bahwa dengan merendahkan orang lain tanpa berusaha meletakkan diri ini dalam kondisi serupa, tanpa berkaca terlebih dahulu, manusia sudah melanggar ikrar bahwa Yang Maha Suci hanyalah Allah.