FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Nafsu Rasa Minta Puji

Nafsu rasa minta puji mendorong manusia untuk memiliki ketergantungan terhadap penilaian sesama, sehingga ibadahnya, semua perbuatan mulianya tidak pernah bisa diniatkan hanya karena Allah semata. Kecenderungan inilah yang pada akhirnya mengantarkan manusia untuk melakukan perbuatan yang tidak mulia.

Dorongan untuk minta puji ini tumbuh dalam setiap keputusan yang diambil seorang manusia di dalam kehidupannya. Mungkin hari ini melakukan perbuatan mulia karena orangtua, besok karena guru di sekolah, lusa karena teman, minggu depan karena pacar, tahun depan karena warga, begitu terus menerus sehingga ketika diuji oleh Allah dengan tidak mendapatkan pujian, penghargaan, penghormatan, ataupun sekedar ucapan terima kasih, ia tidak akan terima.

Padahal tidak ada satupun perbuatan manusia yang tidak diuji oleh Allah. Seperti yang tertera pada surat Al ‘Ankabuut ayat 2.

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”

Nafsu rasa minta puji membuat manusia lupa bahwa dalam pilihan hidupnya, manusia selalu dihadapkan pertanyaan apakah ia lebih mengutamakan penilaian di hadapan manusia, ataukah penilaian di hadapan Yang Maha Kuasa. Nafsu rasa minta puji menghalangi manusia, dari ibadah dan perbuatan mulia yang benar-benar diterima oleh Allah sebagai amalan di sisi-Nya, akibat tergiur dengan penghormatan dan penghargaan dari sesama.

Nafsu rasa minta puji menutup manusia dari pelaksanaan bahwa “Segala Puji hanya bagi Allah.”