FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Nafsu Rasa Aku

Nafsu rasa aku mendorong manusia selalu merasa memiliki segala hal yang dititipkan Sang Maha Pencipta kepadanya, sehingga ketika semua itu diambil kembali oleh-Nya, ia tidak akan rela. Ketidakikhlasan inilah yang dalam perkembangannya berujung pada perbuatan-perbuatan yang tidak mulia.

Padahal manusia sudah diajarkan bahwa:

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun

Segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya

Contoh-contoh hal yang dapat dikotori rasa kepemilikan akibat nafsu ini adalah agama, kepercayaan, ras, warna kulit, bahasa, negara, termasuk opini apapun yang dimilikinya terhadap berbagai topik yang sedang trending di berbagai media.

Contoh konkrit pengaruh nafsu rasa aku dalam kehidupan, silakan tonton playlist ini.

Rasa aku, kepemilikan, atau kebanggaan tanpa dasar terhadap berbagai hal inilah yang mendorong manusia untuk tanpa dasar membenci segala bentuk perbedaan yang ada dalam kehidupan manusia.

Manusia bukanlah Zat Yang Maha Segala. Kebesaran Yang Maha Kuasa tidaklah cukup dituangkan hanya di dalam satu individu manusia, tidaklah cukup dituangkan di dalam satu bahasa, tidaklah cukup dituangkan dalam satu agama, satu kepercayaan, satu negara, satu warna, ataupun satu opini saja.

Nafsu rasa aku membuat manusia lupa bahwa dengan membenci segala bentuk perbedaan, manusia sudah melanggar ikrar bahwa Allah itu Maha Besar.