FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Nafsu

Nafsu adalah bagian tidak terpisahkan dari manusia yang tercipta ketika fitrah (roh suci) bergabung dengan tubuh hewan (jasmani).

Nafsu di sini berbeda artinya dengan nafsu yang selalu digunakan dalam bahasa sehari-hari. Nafsu, misalnya nafsu makan, mengacu pada dorongan bagi seorang manusia yang berasal dari kebutuhan tubuh fisik atau mentalnya. Sedangkan nafsu, dalam ilmu kebenaran, merupakan bagian dari manusia yang lebih dalam lagi dari sekedar dorongan jasmani dalam (akal, pikir, rasa) ataupun jasmani luar (jasad), yang memiliki sifat mengotori hati dan otomatis tindakan manusia sehingga selalu melenceng dari bimbingan fitrah.

Nafsu ada tiga macam:

1. Nafsu rasa aku

2. Nafsu rasa suci

3. Nafsu rasa minta puji

 

Apa pengaruh kendali nafsu atas manusia?

Manusia yang wafat dalam keadaan terkendali nafsu bisa dipastikan rohnya akan bergentayangan. Mereka akan histeris melihat kenyataan bahwa segala amal ibadah yang dilakukannya selama ini ternyata sama sekali tidak diterima oleh-Nya.

Rohnya pun kemudian akan kembali ke alam nyata untuk mengikuti dan menempel ke jasmani dalam anak cucunya, orang dicintainya, atau orang yang dikaguminya. Masing-masing memiliki motivasi tersendiri untuk hal ini. Sebagian untuk memenuhi ambisinya yang tertinggal dan menemukan sosok yang bisa dimanfaatkan untuk merealisasikannya, sebagian mengajak manusia yang hidup bekerjasama dengan harapan bisa menjadikan amal perbuatannya diterima oleh Allah.

 

Bagaimana contoh tindakan manusia yang dipengaruhi oleh nafsu?

Di zaman kebaikan – masa dimana ilmu Allah diturunkan melalui utusan-Nya yang berwujud manusia, yaitu para rasul dan nabi sebagaimana yang manusia kenal, mereka mengajarkan dan mengedepankan ilmu hubungan sesama manusia, misalnya menutup aurat bagi wanita, menu menumbuhkan jenggot bagi pria, warna hitam pada kening mengindikasikan banyak sujud dan sebagainya.

Hal ini berbeda-beda di antara kaum nabi dan rasul tertentu dengan yang lainnya. Bahkan dalam umat rasul yang sama, setelah sang rasul meninggal tata cara tersebut pun pada akhirnya terpecah-pecah. Masing-masing mengakui yang paling benar.

Ironisnya adalah semua itu hanya ibadah secara jasmani luar saja. Padahal amal ibadah yang diterima Allah mencakup ibadah rohani terlebih dahulu, yaitu kemampuan untuk melaksanakan niat hanya karena Allah, hati yang dikendalikan fitrah sehingga rasa, akal, dan pikir meyakini bahwa Allah itu satu dan sangat dekat, baru dilanjutkan dengan ibadah jasmani luar dengan salat, puasa, dan lainnya.

Tipuan nafsu sangat halus dan dahsyat sehingga tanpa disadari kebanyakan manusia menganggap ibadah hanya meliputi jasmani luar saja, merasa sudah menjadi manusia yang paling dekat dengan Allah setelah melaksanakan ibadah tersebut. Tipuan tersebut bahkan menjadikan perbedaan di antara ibadah jasmani tersebut justru menjadi bahan pertikaian yang mengakibatkan pertumpahan darah hingga detik ini. Semua ini merupakan efek dari kendali nafsu rasa aku di dalam manusia yang beragama sehingga masing-masing menganggap dirinya atau kelompoknyalah yang paling benar.

Ketika seorang manusia hanya memfokuskan usahanya dalam beribadah pada sisi jasmani luar, nafsu justru akan menguasai dirinya, dan membiaskannya untuk menggunakan hak-hak Allah: nafsu rasa suci menjadi semakin tebal. Hal ini pada dasarnya justru menjauhkannya dari petunjuk-Nya untuk menjadi manusia yang benar.