FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Mengapa nama 'Nur Muhammad'?

Mengapa menggunakan istilah 'Nur Muhammad'? Bukankah Muhammad merupakan nama dari nabi umat Islam? Nabi yang ditulis di dalam Al-Quran sebagai nabi terakhir?

Anda bertanya seolah-olah penggunaan nama tersebut merupakan pilihan saya. Bukan, semua ini semata-mata hanyalah perintah dari Bos, kelima Nur Muhammad tersebut. Sekali lagi saya tekankan, bahwa saya tidak mengetahui semua rencana ataupun tujuan yang tersembunyi yang berada dalam pikiran mereka ketika memberikan perintah kepada saya. Saya sebagian besar hanya mengikuti sesuai dengan keinginan mereka tanpa bertanya-tanya lebih dalam. Sebagian kecil informasi yang memang sudah saya ketahui mengenai hal ini, bisa ditonton di seri "Kehidupan & Kematian".

Mengapa tidak?

Karena saya sudah kenal dengan mereka cukup lama. Bertanya terlalu dalam hanya akan memberikan tambahan pekerjaan untuk saya, yang belum tentu bermanfaat buat saya sendiri secara pribadi. Itu jawaban kasar dan sederhananya.

Kalau mau jawaban lebih diplomatis, dalam pengalaman saya selama puluhan tahun, meminta, apalagi memaksa mereka untuk memberikan jawaban akan misteri tertentu memiliki konsekuensi yang lebih besar yang seringkali tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya sering secara misterius merasakan sakit yang sangat aneh hingga berhari-hari, saya sering bangun dengan kondisi yang sangat lemas seolah sudah melakukan perjalanan jalan kaki berhari-hari, dan semacamnya.

Itu karena mereka tidak suka memberikan jawaban yang tidak lengkap.

Setiap kali saya melemparkan pertanyaan, mereka tidak akan pernah memberikan jawaban langsung, yang sudah matang dan mudah dicerna. Mereka selalu memastikan saya mendapatkan jawabannya dengan mengalami sendiri dalam kehidupan. Itulah sebenarnya yang terjadi dalam pendidikan saya selama ini.

Misalnya, salah satu pertanyaan awal yang mengawali pendidikan saya ini: Mengapa manusia yang banyak beribadah justru tidak bisa rukun dan saling menghormati satu sama lain? Meskipun mereka baik di depan mata pun, tetapi begitu berpisah justru saling menghina di belakang?

Pertanyaan ini muncul berdasarkan pengamatan saya, sebagai seorang anak kecil di dalam keluarga besar yang sebagian besar merupakan pemuka agama.

Nah, setelah saya ucapkan pertanyaan tersebut kepada mereka. Saya diperintahkan ke sana ke sini, melakukan ini melakukan itu, tidak peduli apa konsekuensi logis yang menunggu saya di masa depan: dihina, dibenci, dicerca, dipenjara, dipersekusi, difitnah, dan seterusnya.

Kalau mau mendapatkan bayangan yang lebih lengkap, silakan baca di buku "Menuju Sadar kepada Allah 1".

Mengingat kenyataan tersebut, saya pun belajar untuk selalu berhati-hati dalam melemparkan pertanyaan kepada mereka.

Jika Anda sudah pernah membaca bukunya, maka Anda tahu bahwa di awal-awal pendidikan saya, mereka bahkan hanya minta untuk dipanggil dengan sebutan 'Abah' atau 'Bapak' saja.

Jawaban serupa dengan yang dijelaskan di atas juga berlaku jika Anda bertanya mengapa menyebut Iblis dengan sebutan 'Ifrit' ataupun mengapa menyebut Hawa dengan sebutan 'Eva'.

Itu semata-mata karena mereka meminta dipanggil dengan sebutan tersebut.