FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Ilmu Kebenaran

Ilmu kebenaran mengacu pada segala usaha manusia dalam mengisi segala bidang yang wajib diisi demi membuahkan manfaat bagi (1) diri sendiri ataupun (2) orang lain, baik secara (3) jasmani maupun (4) rohani, dengan (5) niat karena Allah semata, bermodalkan (6) sadar, (7) tabah, dan (8) sabar.

Berbeda dengan ilmu kebaikan, semua pengetahuan atas kehidupan dan kematian dikatakan menjadi ilmu kebenaran jika dilakukan manusia dalam kondisi hati dikuasai oleh fitrah, bukan nafsu. Dalam kondisi ini, manusia yang melakukannya akan mampu sadar, tabah, dan sabar sehingga tindakannya diterima sebagai amalan di sisi Yang Maha Pencipta. Memajukan manusia dalam usahanya menjadi pemimpin atas nafsu di alam nyata.

Untuk memahami lebih lanjut, silakan menggali lebih dalam di sini: Di Antara Baik, Buruk, dan Benar.

 

Apa pengertian ilmu kebenaran?

Ilmu kebenaran merupakan konsep kehidupan yang mengutamakan hubungan dengan Allah dan berbeda dengan ilmu yang lain (ilmu kebaikan yang dilabel oleh manusia sebagai agama, tradisi, keyakinan, dan sebagainya), kali ini dilewatkan Allah melalui utusan-Nya dari alam rohani: para Malaikat Muqorrobin. Ilmu ini juga disebut dengan nama ‘ayat tersirat’, karena prinsip utamanya adalah bagaimana membaca ayat-ayat Allah yang tersirat dalam berbagai kejadian yang dialami oleh manusia sehari-hari. Semua kejadian tersebut dan bagaimana seorang manusia bereaksi terhadapnya merupakan sebuah percakapan dengan Yang Maha Kuasa.

Ilmu kebenaran diturunkan untuk seluruh umat manusia di manapun berada, tidak membedakan status sosial, agama, bangsa dan lain sebagainya. Ilmu kebenaran juga tidak dibatasi hanya untuk manusia yang masih hidup, namun juga dikabarkan kepada roh-roh yang di alam fana serta roh-roh yang masih bergentayangan di alam nyataIlmu kebenaran tidak memaksakan kehendak.

Sekali lagi tugas penulis hanyalah menuliskan semua ilmu para Nur Muhammad tersebut untuk dikabarkan kepada manusia, bukan untuk mencari pengaruh atau pengikut mendapatkan kekuasaan. Penulis menyadari bahwa yang mampu memberikan petunjuk kebenaran mutlak adalah Allah, serta yang bertugas mendidik manusia dari dalam rohani adalah para Malaikat Muqorrobin.

 

Mengapa Ilmu Kebenaran tidak ada di Al-Quran atau Hadits atau kitab suci manapun?

Ada kok.

Luqman ayat 27 “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (ditulis) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana”. (QS:31:27) Al-Kahfi ayat 109 “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan tinta sebanyak itu (pula).” (QS:18:109)

Ilmu Kebenaran “tidak ada” di dalam Al Quran karena esensinya adalah bagaimana membaca ayat-ayat Allah yang tersirat, bukan hanya yang tersurat. Ilmu Allah yang tersurat sudah jelas pengertiannya. Ilmu Allah yang tersirat, sebaliknya, terdapat di seluruh alam semesta. Selain terkandung di dalam ayat-ayat Allah yang tersurat, ilmunya juga terdapat dalam rumput yang bergoyang ditiup angin, matahari yang bersinar memberikan penghidupan bagi makhluk-makhluk yang begitu beragam, serta tersirat dalam setiap kejadian yang mewarnai kehidupan manusia.

Itulah alasannya mengapa ilmu kebenaran “tidak ada” di dalam Al Quran dan Hadits, ataupun kitab suci lainnya.