FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Dari mana sumber semua informasi ilmu kebenaran ini? Adakah referensi tertulis?

Dari mana sumber ilmu kebenaran ini?

Semua informasi mengenai ilmu kebenaran, baik yang dipresentasikan dalam video di Youtube maupun yang tertulis di buku ataupun website ini, berasal dari percakapan dengan kelima Nur Muhammad yang saya catat atau ingat, saya: sang penulis, Ririn Atika. Percakapan-percakapan dan penjelasan-penjelasan tersebut merupakan bagian dari pendidikan yang saya ikuti selama puluhan tahun dan terus berlanjut hingga detik ini. Setiap kali membaca berita di internet, menonton gosip di tv, ataupun mengobrol dengan orang lain, saya sesekali juga akan dikirimkan pesan oleh salah satu dari kelima Nur Muhammad ini, pesan yang relevan dengan informasi tersebut. Misalnya, apa ayat-ayat tersirat yang terkandung dalam kejadian bencana tertentu? Mengapa Allah memberikan sandiwara yang sangat aneh dalam dunia perpolitikan masa kini? Apa pesan yang berusaha disampaikan melalui kemalangan tersebut? Begitu seterusnya.

Saya kemudian mengumpulkannya dan apabila sudah diperintahkan akan mempresentasikannya dalam berbagai bentuk, termasuk dalam video di Youtube ataupun tulisan di website ini. Untuk gambaran yang lebih lengkap mengenai hal ini, bisa dibaca di buku "Menuju Sadar kepada Allah 1" yang sudah saya tulis.

Adakah referensi tertulis dari masa lalu?

Tidak. Ilmu kebenaran ini merupakan ilmu yang baru bisa diberikan kepada manusia setelah Malaikat Muqorrobin turun ke alam semesta. Nenek moyang kita di masa lalu tidak akan mendapatkannya karena memang belum waktunya. Sebagian dari mereka yang dekat dengan alam gaib, atau memang tinggal di alam gaib bahkan, maksimal hanya mendapatkan kabar burung mengenai hal ini. Itupun sangat sulit dipercayai karena ratusan ribu tahun mereka mengetahui keadaan dunia, kenyataan bagi mereka sangatlah berbeda dengan informasi baru yang dibawa dalam ilmu kebenaran.

Maksudnya?

Ketika kita bicara manusia masa lalu, Anda mengacu pada catatan tertulis yang ditinggalkan manusia yang hidup di masa lalu. Sementara saya tidak hanya mengacu pada peninggalan tersebut, tetapi juga termasuk roh-roh manusia yang saat ini sedang berada di alam fana ataupun sedang terjebak di alam nyata. Mereka kebanyakan juga sama sekali tidak memiliki informasi mengenai Nur Muhammad.

Kasarnya, mereka ibarat orang awam yang tidak mengetahui urusan tingkat tinggi yang melibatkan dan akan berpengaruh kepada seluruh penghuni kosmos. Mereka hanya mengetahui gosip-gosip yang tersebar dari mulut ke mulut.

Tidak sulit membayangkannya, sebenarnya. Lihat saja sekarang betapa mudahnya hoax, informasi yang salah, serta fitnah bersebaran di dunia maya. Sebagian besar bahkan sudah dianggap sebagai kebenaran oleh masyarakat. Hal semacam ini bukanlah hal baru. Melainkan sudah sering terjadi, meskipun di dunia yang berbeda. Silakan menonton video saya yang berjudul "Ensiklopedia Ujian Kehidupan hal. 1: Dunia Nyata dan Dunia Maya" untuk keterangan lebih lanjut.

Hmm...

Intinya begini, saya tahu persis bahwa semua informasi yang saya sampaikan di sini sangat sulit untuk dipercaya. Tetapi itu sebenarnya bukan masalah. Anda boleh percaya boleh tidak. Tidak akan ada orang yang memaksa Anda untuk percaya. Kita semua akan dibimbing oleh Malaikat Muqorrobin yang berada di dalam diri kita masing-masing.

Pilihannya hanyalah apakah Anda menganggap semua informasi dalam ilmu kebenaran ini bermanfaat atau tidak, berguna atau tidak? Jika bermanfaat, maka silakan diambil dan gunakan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Jika tidak, maka silakan lanjutkan hidup Anda dan lupakan saja semua informasi ini. Sederhana, bukan?

Kalaupun Anda percaya, tidak akan ada pemaksaan kepada Anda untuk melakukan komitmen tertentu. Bahkan saya pun tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa dari percaya atau tidaknya Anda.

Tetapi bukankah Anda menjual buku-bukunya?

Oh, maksud Anda saya diuntungkan jika orang kemudian percaya dan membeli buku-buku saya? Oke. Tolong perhatikan baik-baik. Alasan mengapa saya menuliskan buku-buku tersebut atau bahkan melakukan berbagai usaha untuk menyampaikan semua informasi ini adalah perintah dari Bos, kelima Nur Muhammad tersebut. Mereka memiliki tujuan-tujuan lain yang saya sendiri juga seringkali tidak tahu, dan seringkali juga saya tidak peduli. Saya hanya menjalankan perintah.

Buku dan video, termasuk website ini merupakan sebuah komitmen saya pribadi dengan mereka. Hanya salah satu bagian dari kehidupan yang menurut saya pantas saya lakukan. Titik.

Berbagai macam media penyampaian tersebut merupakan bagian dari pendidikan saya dengan Nur Muhammad. Saya ini, sesungguhnya, tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi. Hampir semua keilmuan yang saya miliki dan gunakan sehari-hari berasal dari bimbingan mereka, atau belajar sendiri. Singkatnya, buku-buku tersebut adalah bagian dari latihan saya untuk menulis, belajar menjadi penulis. Semua usaha yang saya lakukan hingga bisa menerbitkan buku dan berusaha menjualnya juga sama, bagian dari pendidikan saya dengan mereka.

Sekarang Anda menyindir bahwa seolah saya salah? Karena saya ingin membagi ilmu tersebut kepada siapapun yang mau dengan cara yang seefisien mungkin?

Boleh saja. Yang perlu Anda lakukan, jika Anda berpikiran seperti itu, hanyalah cuek dan lanjutkan kehidupan Anda. Tidak usah membeli bukunya.

Tetapi, ada poin yang perlu saya tegaskan mengenai topik ini. Beberapa orang yang sudah mengetahui ilmu kebenaran ini, mereka yang percaya, seringkali ingin mendapatkan bukunya secara gratis atau ingin agar saya membaginya kepada semua orang yang mau secara cuma-cuma.

Oh? Lalu mengapa Anda tidak melakukannya?

Saya tidak diperbolehkan melakukan hal itu.

Ini masalah prinsip sebenarnya. Jika saya membagikan bukunya secara gratis, maka seolah ilmu kebenaran membutuhkan masyarakat untuk percaya atau yakin, membutuhkan pujian atau pengakuan dari manusia. Padahal bukan seperti itu kenyataannya.

Anda boleh meragukan ucapan saya, tetapi sungguh, sebenarnya ilmu kebenaran ini adalah sesuatu yang sangatlah berharga. Tujuan yang berusaha dicapainya sangatlah mulia. Manfaat yang bisa diambil manusia dengan melaksanakannya sangatlah luas, melintasi ruang dan waktu, melewati siklus kehidupan dan kematian.

Jika Anda tidak mau atau tidak mampu menyadari kenyataan tersebut, sehingga enggan mengorbankan sedikit waktu dan uang, bukan salah saya. Saya tidak memiliki kewajiban ataupun tugas untuk membuat orang lain percaya dan yakin. Apalagi yang bisa membukakan hati manusia memang hanyalah Allah Yang Maha Segala.

Mereka yang kemudian merasa berhak mendapatkan bukunya secara gratis atau ingin memahami ilmunya tanpa perlu berkorban waktu dan tenaga, salah satu alasannya yang saya ketahui, adalah karena mereka memiliki kesalahpahaman mengenai hakikat harta dan uang.

Apa maksudnya?

Jadi begini, sebagian besar orang menganggap pertanggungjawaban harta itu berhenti setelah ia berhasil mendapatkannya dengan cara halal. Setelah manusia berhasil mendapatkan harta dengan memeras keringat, tanpa melanggar satu pun larangan dari keyakinan dari mereka miliki masing-masing, kemudian membayar zakat atau sedekah atau semacamnya, mereka langsung merasa bahwa setelah itu urusannya dengan Allah selesai. Padahal urusan dengan Allah berkenaan dengan harta itu tidak sekedar bagaimana cara mendapatkannya, tetapi juga bagaimana mengelolanya, dan kemudian bagaimana menghabiskannya.

Singkatnya begini, saya memiliki ilmu, sebuah ilmu yang sangat berharga. Kemudian saya berusaha menyampaikannya melalui buku. Buku yang kemudian saya jual. Nah, kemudian ada orang beranggapan, seharusnya ilmu yang begitu berharga tersebut itu diberikan gratis donk! Seolah saya doank yang butuh.

Nah, di sinilah letak kesalahannya.

Mm... Di mana, Bu?

Mereka yang berpikiran seperti itu, sadar ataupun tidak, beranggapan bahwa hanya cara mencari penghidupan yang dinilai Allah. Padahal pilihan apakah mereka mampu mengenali pengeluaran mana yang bermanfaat buat dirinya sendiri dan/atau orang lain, buat masa depannya sendiri, dan mana pengeluaran yang sekedar cari pujian atau supaya merasa suci, itu juga ibadah yang dinilai di hadapan Allah. Coba kamu pikir, bandingkan harga buku yang saya jual dengan pengeluaran-pengeluaran lain kamu. Berapa banyak uang yang kamu habiskan buat dipuji orang doank? Supaya dibilang keren, saleh, cantik, kaya, atau apa aja deh yang biasa orang kejar.

Makanya, saya ketawa aja kalau melihat orang-orang yang begitu gigih mengejar kekuasaan, kesaktian, ataupun kekayaan, sampai mengorbankan segala hal. Mereka kebanyakan menganggap dengan tercapainya tujuan mereka tersebut, dengan mendapatkan pujian dan pengakuan dari masyarakat, dengan mendapatkan pengikut dan kekuasaan, itu berarti mereka sudah dirahmati oleh Allah.

Salah besar!

Bagaimana cara mereka menggunakan 3K tersebut, kekuasaan, kesaktian, dan kekayaan, justru merupakan ujian kehidupan yang paling susah dan sangat jarang orang yang mampu lulus ujian itu dengan nilai yang cukup memenuhi standar.

Jadi nggak usah khawatir dengan kenyataan bahwa saya menerima penghasilan dari penjualan buku ini. Saya juga tetap harus mempertanggungjawabkan bagaimana akan mengelola dan menggunakannya nanti di hadapan Allah.