FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Beragama ataupun tidak beragama bukan permasalahannya? Bagaimana mungkin?

Jadi agama apapun yang diyakini atau bahkan ketiadaan agama, sama sekali tidak berhubungan langsung dengan kedudukan seorang manusia di hadapan Allah? Bagaimana mungkin?

Pertanyaan yang bagus.

Jadi begini ceritanya. Sebelum Nur Muhammad mengukur bagaimana sebenarnya kualitas seorang manusia yang paling merepresentasikan kedudukannya di hadapan Allah, mereka terlebih dahulu melakukan tiga tugas utama.

1. Mengumpulkan kembali sumber ilmu kesaktian yang terlanjur mereka bagikan. Mereka menganggap ini sudah cukup meskipun pekerjaan mereka hanya mencakup sumber-sumber ilmu kesaktian terbesar. Sementara itu, ilmu kesaktian yang tersisa dan masih bisa digunakan manusia saat ini hanya yang level terendah, yang nantinya akan menjadi PR bagi masing-masing individu manusia untuk mengembalikannya, baik secara sukarela maupun harus dipaksa terlebih dahulu.

2. <!-- @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } --> Memajukan sumber daya manusia dan teknologi yang dimiliki manusia, agar mayoritas tidak bergantung pada ilmu kesaktian. Langkah ini dilakukan oleh Adam dan Eva. Mengapa? Karena mayoritas ilmu kesaktian menggunakan roh sebagai sumber energinya, mengakibatkan kekacauan bagaikan benang kusut di antara manusia yang masih hidup dengan manusia yang sudah mati. Kemajuan teknologi saat ini mungkin tidak terbayangkan oleh orang dari masa ribuan tahun yang lalu. Sebagian alasannya, adalah karena mereka ketergantungan dengan ilmu kesaktian. Sangat praktis, cukup korban nyawa. Itu sarkasme ya. Jangan dianggap serius. Oh, dan pekerjaan mereka juga termasuk menghilangkan semua catatan mengenai bagaimana mempraktikkan ilmu-ilmu kesaktian. Itulah sebenarnya, alasan mengapa dalam beberapa agama mayoritas dunia, sihir atau ilmu kesaktian selalu didoktrin menjadi segala sumber kejahatan. Biar manusianya takut dan nggak mencoba-coba sama sekali.

3. Mempersiapkan Malaikat Muqorrobin untuk membantu fitrah manusia dalam mengendalikan nafsu. Langkah ini dilakukan Jibril di alam rohani, meliputi pengetahuan dasar yang perlu diberikan kepada Malaikat Muqorrobin agar tidak kebingungan nantinya sewaktu-waktu diturunkan ke alam nyata untuk mendampingi manusia.

Nah, setelah mereka memutuskan bahwa sarana dan prasarana untuk mendukung ilmu kebenaran dan turunnya Malaikat Muqorrobin dianggap cukup, mereka mulai melakukan langkah berikutnya, yaitu melakukan Pengadilan Rohani.

Detil mengenai Pengadilan Rohani bisa dibaca di buku "Kiamat 2012".

Intinya, saya digunakan sebagai umpan oleh kelima Nur Muhammad untuk melihat bagaimana sample manusia ketika berhadapan dengan kondisi saya yang telah mereka rencanakan.

Detil ini bisa dibaca di buku "Menuju Sadar kepada Allah 1".

Singkatnya, saya sudah pernah menjadi kondisi apapun. Saya pernah dikondisikan oleh Nur Muhammad menjadi seseorang yang sangat miskin sehingga keesokkan harinya saja tidak tahu mau makan apa. Saya pernah dikondisikan menjadi obyek fitnah bagi orang lain, untuk melihat bagaimana mereka akan bereaksi. Dan masih banyak lagi.

Semua orang yang berinteraksi dengan saya selama proses tersebut menjadi sample untuk mengukur level keimanan manusia yang merepresentasikan kualitasnya di hadapan Allah yang sebenarnya.

Salah satu kesimpulannya adalah bahwa agama yang dianut, atau bahkan ketiadaan keyakinan, sama sekali tidak berpengaruh dengan seberapa kuat fitrah seorang manusia mampu mengendalikan nafsunya.

Jadi, Anda jangan langsung merasa tinggi ketika berhadapan dengan orang yang berbeda keyakinan. Apalagi mereka yang tidak memiliki keyakinan. Karena bisa jadi, kedudukan mereka di hadapan Allah justru lebih tinggi.

Adakah hasil lain dari proses Pengadilan rohani ini? Yang menyebutkan bahwa agama ataupun ketiadaan keyakinan tidak berpengaruh dengan kedudukan seorang manusia di hadapan Allah?

Hasil dari pengadilan rohani, sebenarnya bisa dibaca di buku "Kiamat 2012" yang sudah saya tulis.

Tetapi jika mau dijabarkan dengan singkat di sini, kurang lebih seperti berikut.

1. Manusia berdasarkan tingkat keimanannya, kualitas fitrahnya dalam mengendalikan nafsu, dapat bisa dibagi menjadi 20 tingkatan. Tingkat 1 merupakan tingkat tertinggi, sementara 20 merupakan tingkat terendah.

2. Tingkat 1 hingga 17 diisi oleh manusia-manusia yang memiliki potensi untuk bisa dididik dan terus meningkatkan keimanannya ketika mereka hidup di alam nyata ini. Mereka akan mendapatkan bimbingan dari Malaikat Muqorrobin Syariat dan Lummah.

3. Tingkat 18 hingga 20 diisi oleh manusia-manusia yang tidak mungkin bisa ditingkatkan keimanannya dalam masa hidup kali ini. Mereka hanya bisa mulai dididik setelah mati terlebih dahulu. Mereka akan mendapatkan bimbingan dari Malaikat Muqorrobin Yassin dan Nurani pada kesempatan hidup kali ini.

Pengadilan rohani ini dimulai pada tahun 1989 dan baru benar-benar berakhir pada saat bencana gempa, tsunami, dan likuifasi yang terjadi di Palu dan sekitarnya beberapa waktu lalu. Kejadian di Palu, merupakan sebuah simbolisme. Selayaknya dalam proses pengadilan, ketika kasus yang dibahas sudah diberikan vonis, palu pun diketuk.

Dengan resmi ditutupnya proses pengadilan rohani ini, dimulailah ketentuan zaman baru di kosmos, dari yang sebelumnya tatanan ilmu kebaikan dimana segala hal dinilai berdasarkan perspektif sesama manusia, menjadi tatanan ilmu kebenaran dimana segala hal dinilai berdasarkan perspektif di hadapan Allah.

Jika di masa kebaikan pemegang tampuk kepemimpinan adalah keempat Muhammad: Ifrit, Khidir, Adam, dan Eva sementara Jibril hanya sebagai pendukung, maka di masa kebenaran kepemimpinan dipegang oleh Jibril, sementara keempat Muhammad hanya menjadi pendukungnya.