FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Apa bukti keberadaan Nur Muhammad?

Apa bukti yang bisa Anda berikan akan keberadaan makhluk bernama Nur Muhammad ini? Atau mungkin keberadaan Sang Pencipta mungkin, bagi yang atheis?

Jika pertanyaan Anda berusaha mendapatkan bukti nyata apakah semua ilmu yang saya sampaikan itu benar adanya, bukan sekedar khayalan atau bohong belaka, maka silakan luangkan waktu untuk mempelajarinya dan rasakan sendiri efeknya di dalam kehidupan Anda sehari-hari.

Jika pertanyaan Anda berusaha membuktikan kepada orang lain bahwa saya hanyalah penipu, tidak akan mampu menawarkan keajaiban apapun yang bisa meyakinkan Anda atau orang lain akan kesungguhan ilmu ini, saya hanya bisa tertawa.

Tahu kenapa? Sebab yang akan merasakan manfaat atau enaknya berada di bawah kendali fitrah jika Anda melaksanakan ilmu kebenaran itu Anda sendiri. Dan yang akan merasakan mudarat atau nggak enaknya berada di bawah kendali nafsu itu juga Anda sendiri, bukan saya. Kalaupun saya membuktikan jawaban kedua pertanyaan tersebut kepada Anda, antara usahanya sama hasilnya nggak sebanding, kalaupun Anda percaya, nggak ada untungnya buat saya.

Hmm...

Di dalam diri setiap individu manusia, terdapat fitrah, serpihan roh suci kombinasi antara keempat Muhammad: Ifrit, Khidir, Adam, dan Eva, tanpa terkecuali. Anda punya, saya punya, siapapun manusia punya, meskipun dalam kombinasi persentase yang berbeda-beda, yang otomatis mempengaruhi kepribadian kita semua.

Jika Anda memiliki hati yang mayoritas dikuasai fitrah, entah bagaimana caranya, Anda akan dibimbing oleh fitrah Anda tersebut pada kesimpulan bahwa ilmu ini benar adanya. Bukan sekedar kebohongan. Anda bisa mengalami kejadian aneh, atau kejadian biasa, atau kebetulan, yang tidak akan memiliki arti apa-apa bagi orang lain, tetapi memiliki makna yang sangat besar dalam kehidupan Anda, sesuatu yang sangat personal.

Sebaliknya, jika Anda memiliki hati yang mayoritas dikuasai nafsu, tidak peduli seberapa banyak pun argumen saya berikan, tidak peduli sebanyak apapun bukti muncul di permukaan, semua itu tidak akan pernah cukup bagi Anda.

Seperti yang saya jelaskan, dalam video "Pembukaan: Mengapa ilmu kebenaran tidak disebutkan dalam ilmu rasul terakhir?"

Di dalam cerita-cerita masa lalu, menghadapi seorang Nabi atau Rasul atau manusia siapapun yang membawa pesan bagi masyarakat untuk melakukan perubahan atau memperbaiki diri, masyarakatnya memiliki kecenderungan untuk mengharapkan keajaiban atau mukjizat, yang dapat memperkokoh keyakinan mereka akan kebenaran informasi yang dibawa.

Sayangnya sedikit manusia yang menyadari, bahwa kebenaran berita yang disampaikan tidak ada hubungannya dengan keajaiban yang bisa diwujudkan pembawa pesan tersebut.

Bisa diperjelas lagi apa maksudnya?

Ada tiga poin penting berkenaan dengan pernyataan tersebut yang ingin saya sampaikan di sini.

Satu. Mukjizat atau keajaiban apapun yang seolah melebihi batas-batas kemampuan seorang manusia, jika kita lihat dari sisi hubungan dengan sesama manusia, memang merepresentasikan keilahian sebuah pesan. Sayangnya, di hadapan Allah, seorang manusia yang baru percaya akan kebenaran sebuah pesan ilahi setelah diberikan keajaiban, nilainya atau kedudukannya justru lebih rendah di hadapan Allah.

Hal itu karena hatinya lebih didominasi nafsu daripada fitrah.

Seorang manusia memiliki kedudukan yang lebih tinggi di hadapan Allah karena hatinya berada di bawah bimbingan fitrah daripada nafsu. Semakin besar dominasi fitrah dalam kehidupan sehari-harinya, semakin tinggi ia di hadapan Allah.

Mereka tidak membutuhkan mukjizat ataupun keajaiban untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Manusia yang dikendalikan nafsu sebaliknya.

Dua. Seperti yang telah dijelaskan secara singkat dalam video "Nur Muhammad" ini, kemudian diperjelas lagi dalam seri "Kehidupan dan Kematian", serta seri "Malaikat, Manusia, dan Siluman", dalam perkembangan kebudayaan umat manusia, Nur Muhammad membagikan sebagian kekuasaannya akan unsur penyusun kosmos, ilmu kesaktian, kepada anak-anak kesayangan mereka.

Dengan kata lain, mereka juga memiliki kesaktian yang melebihi batas-batas kemampuan manusia biasa. Kemudian dalam perkembangannya, mereka pun memodifikasi serta membagi kekuasaan-kekuasaan tersebut kepada anak keturunan mereka yang mereka sukai. Sehingga jumlah roh-roh ataupun manusia yang memiliki kemampuan tersebut terus bertambah hari demi hari. Seperti Multilevel Marketing.

Sebelum keputusan dari Yang Maha Esa bahwa ilmu kebenaran akan diturunkan, pengaruh yang dimiliki ilmu-ilmu kesaktian tersebut terhadap sejarah umat manusia sangatlah besar. Tetapi ini cerita lain.

Yang ingin saya sampaikan adalah, jika Anda mendasarkan kemampuan-kemampuan tersebut, ilmu kesaktian tersebut, sebagai dasar bukti kebenaran informasi mengenai kehidupan dan kematian, maka Anda telah melakukan kesalahan yang sangat fatal untuk diri Anda sendiri. Dan kenyataan pahit tersebut mungkin baru akan Anda sadari setelah Anda mati.

Tidak ada hal yang bisa saya lakukan mengenai hal ini. Semoga Anda lebih beruntung di masa depan.

Tiga. Tujuan awal dan akhir penciptaan manusia, yaitu menjadi pemimpin di kosmos, ketika seorang manusia mampu mengalahkan pengaruh nafsu yang ada di dalam dirinya sendiri, tidak ada hubungannya dengan kepercayaan ataupun ketiadaan kepercayaan yang dimiliki manusia.

Melainkan murni berdasarkan seberapa besar pengaruh fitrah dan nafsu akan hatinya, pengaruh fitrah dan nafsu akan setiap perbuatan yang dilakukannya sehari-hari.

Seorang manusia yang tidak meyakini keberadaan Yang Maha Esa tetapi mampu mengendalikan dirinya agar tidak selalu mengikuti keinginan nafsunya, justru memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi, daripada manusia yang beragama tertentu, tetapi membiarkan dirinya dikendalikan nafsu rasa aku, rasa suci, dan rasa minta puji.

Misalnya, mereka justru menjadikan agama tersebut sebagai alasan untuk berbuat zalim di mana-mana. Mereka menjadikan agama sebagai pemberi ampun bagi setiap tindakan mereka tanpa berusaha mengendalikan nafsu di dalam diri mereka sendiri.

Oleh karena itu, jika Anda tidak percaya keberadaan Yang Maha Esa, hal itu tidak masalah. Tetaplah teguh dengan apapun keyakinan yang Anda miliki atau ketiadaan keyakinan yang Anda miliki, dan ikuti selalu bimbingan dari dalam. Karena setiap individu memiliki fitrah di dalamnya, yang selalu membersihkan hati dari pengaruh nafsu. Apalagi saat ini juga sudah diturunkan Malaikat Muqorrobin untuk membantu kita semua mengalahkan nafsu.

Seperti pepatah "Ada banyak jalan menuju Roma". Kita semua memang memiliki perbedaan, hal itu wajar karena Kebesaran Yang Maha Kuasa tidak cukup jika hanya dituangkan dalam satu kepercayaan saja. Tetapi hal ini bukan berarti kita tidak menuju tempat yang sama.