FITRAPEDIA

  • Ahmad Arli Hikmawan

Apa agama Anda?

Apa agama yang Anda anut? Apakah Anda tidak pernah diajarkan atau belajar mengenai agama sebagaimana sewajarnya?

Saya dilahirkan dalam keluarga yang menganut agama Islam. Ayah saya merupakan seorang dosen perguruan tinggi Islam, sangat berjasa dalam mendirikan sebuah universitas Islam. Ibu saya memiliki dan mengelola sebuah panti asuhan, ia juga merupakan pengurus dalam organisasi Muslimat; itu profesi mereka ketika masih hidup.

Itu pertanyaan kamu bukan? Bukan?

Oke. Nenek moyang saya dari garis keturunan ulama turun temurun, baik dari ayah ataupun ibu saya. Bahkan ada yang bilang kalau mereka keturunan ningrat. Itu yang kamu tanya? Bukan?

Setiap hari saya salat lima waktu, tahajjud, dan dhuha. Ketika bulan puasa, saya juga puasa Ramadhan. Karena biasa berurusan dengan si Bos-bos berlima itu, saya bahkan terbiasa puasa setiap hari tanpa ada hari awal atau akhir hingga berbulan-bulan tanpa berhenti. Baik yang saya tahu kapan waktu untuk berbukanya, maupun yang tidak tahu kapan bisa makan lagi.

Itu pertanyaan kamu? Bukan juga?

Kalau maksud dari pertanyaan kamu itu, bagaimana mungkin saya bisa memiliki pengetahuan ini tanpa ada guru yang secara nyata mengajarkan, maka jawabannya sangat mungkin sekali, dan detilnya bisa dibaca di buku "Menuju Sadar kepada Allah 1".

Satu hal yang saya rasakan, setelah mempelajari ilmu kebenaran ini, yang sebelumnya belum pernah saya rasakan, meskipun sejak kecil pun saya juga tidak pernah lepas dari ibadah jasmani setiap hari, adalah saya menjadi lebih terang dalam melihat segala sesuatu.

Sebelum belajar ilmu kebenaran, dalam melakukan segala ibadah, saya selalu mengejar pahala dan surga. Saya melakukan salat, puasa, membaca Al-Quran, zikir, dan ibadah lainnya, sebagaimana kedua orangtua saya mengajarkan sejak kecil, karena merasa Allah akan memberikan apa yang saya mau jika saya beribadah, baik dalam kehidupan maupun setelah mati.

Setelah melalui pendidikan dengan Nur Muhammad, saya baru sadar, bahwa ibadah itu merupakan kebutuhan saya sendiri, bukan kebutuhan Allah. Saya bisa melihat apa ilmu maksud dan tujuan Allah menguji saya, sehingga saya bisa lulus ujian kehidupan tersebut dengan nilai keikhlasan yang memenuhi persyaratan.

Saya bisa melihat perbedaan di antara ibadah yang murah di hadapan manusia tetapi sebenarnya berharga di hadapan Allah, dengan ibadah yang mahal di mata manusia tetapi sebenarnya tidak berharga di hadapan Allah.

Detil mengenai ibadah murah tetapi mahal ini bisa dibaca di buku “Membaca Ayat-ayat Allah yang Tersirat 1”

Dalam setiap kejadian yang saya alami, baik yang susah ataupun senang, baik yang dilakukan atas perintah Nur Muhammad atau yang semata-mata saya anggap paling baik berdasarkan situasinya, saya bisa melihat alasan mengapa Allah menguji saya melalui kejadian tersebut. Apa yang sedang berusaha Allah ambil dari hak-hak prerogatif-Nya yang terlanjur saya gunakan lewat ujian tersebut.

Kenyataan ini, meskipun kecil, sangat mudah terlewat, dan tidak akan terlihat oleh mata orang lain, nyatanya selalu memberikan saya kekuatan, membawa perubahan yang sangat besar dalam cara saya menghadapi kehidupan.

Sekarang ini, kalau melihat ke belakang, saya kadang heran juga; kok bisa ya saya tahan banting melakukan semua perintah Nur Muhammad tersebut? Kok saya bisa masih hidup sekarang? Huh...

Melihat situasinya dari masa kini, dengan semua ilmu yang sudah saya pahami, saya tidak bisa menyalahkan keluarga saya semua, kedua orangtua saya, saudara-saudara saya, baik yang sedarah ataupun yang tidak, yang berulang kali menganggap saya gila.

Wajar itu kalau dilihat dari perspektif mereka.